Cari Blog Ini

Minggu, 10 Juni 2012

Pengertian Persepsi


Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwwa atau hubungan hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stumuli inderawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori dalam (Jalaluddin Rakhamat, 2007:51)
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal hal lain yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukkan persepsi bukan jenis atau stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu. (Jalaluddin Rakhamat, 2007:55)
Faktor-faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi lazin disebut sebagai kerangka rujukan. Dalam kegiatan komunikasi, kerangka rujukan mempengaruhi bagimana orang memberikan makna pada pesan yang diterimanya. Menurut McDavid dan Harari, para psikologi menanggap kerangka rujukan ini amat berguna untuk menganalisa intrepertasi perseptual dari peristiwa yang dialami. (Jalaluddin Rakhamat, 2007:57-58)
Krech dan crutchfield merumuskan dalil perserpsi :
Pertama : persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti objek-objek yang mendaoatkan tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Mereka memberikan contoh pengaruh kebutuhan, persiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya terhadap persepsi. (Jalaluddin Rakhamat, 2007:56)
Kedua: Medan perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi. (Jalaluddin Rakhamat, 2007:59)
Ketiga : sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktural ditentukkan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Menurut dalil ini, jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek yang berupa asimiliasi atau kontras. (Jalaluddin Rakhamat, 2007:59)

Aturan Konglomerasi Media Di Indonesia 
Intervensi Pemilik Media "Konglomerasi Media" 
Bahaya Konglomerasi Media
Dampak Konglomerasi Media 
Regulasi atau Aturan Konglomerasi Media Di Indonesia 
Degradasi Moral dan Televisi 
Bahaya Televisi 
Pengusaha yang mempunyai banyak media 

0 komentar:

Poskan Komentar