Cari Blog Ini

Jumat, 27 Mei 2016

Bahaya Televisi


TEORI KULTIVASI (GEORGE GERBNER)

TEORI KULTIVASI (GEORGE GERBNER)Teori Kultivasi merupakan bagian dari teori komunikasi yang membahas efek dari komunikasi massa, teori ini dikembangkan oleh George Gerbner. Teori Kultivasi ini muncul untuk meyakinkan orang bahwa efek media massa lebih bersifat kumulatif dan lebih berdampak pada tataran social budaya dari pada individual.
 Teori Kultivasi ini juga memberikan gambaran bahwa efek media massa tidak secara langsung menerpa khalayak. definisi: Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak pemirsa tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak pemirsa dengan televisi, mereka belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai (nilai sosial) serta adat dan tradisi nya.
Menurut Miller (2005: 282), teorikultivasi tidak dikembangkan untuk mempelajari "efek yang ditargetkan dan spesifik (misalnya, bahwa menonton Superman akan mengarahkan anak-anak untuk mencoba terbang dengan melompat keluar jendela) melainkan dalam hal akumulasi dan dampak televisi secara menyeluruh, yaitu bagaimana masyarakat melihat dunia dimana mereka hidup ". Oleh karena itu disebut 'Analisis Budaya'. Gerbner, Gross, Morgan, & Signorielli (1986) berpendapat bahwa meskipun agama atau pendidikan sebelumnya telah berpengaruh besar pada tren sosial dan adat istiadat, namun sekarang ini, televisilah yang merupakan sumber gambaran yang paling luas dan paling berpengaruh dalam hidup. sehingga televisi merupakan gambaran dari lingkungan umum kehidupan masyarakat.
Teori Kultivasi dalam bentuk yang paling dasar menunjukkan paparan bahwa sesungguhnya televisi dari waktu ke waktu, secara halus "memupuk" persepsi pemirsa tentang kehidupan realitas. Teori ini dapat memiliki dampak pada pemirsa TV, dan dampak tersebut akan berdampak pula pada seluruh budaya kita. Gerbner dan Gross (1976) mengatakan "televisi adalah media sosialisasi kebanyakan orang menjadi peran standar dan perilaku. Fungsinya adalah satu, enkulturasi". Televisi memang sudah sangat melekat dikehidupan kita sehari-hari. Dari televisilah kita belajar tentang kehidupan dan budaya.
Tontonan seperti acara sinetron maupun reality show yang sering menunjukkan kekerasan, perselingkuhan, kriminal, dan lain sebagainya akan dianggap sebagai gambaran bahwa itulah yang sering terjadi di kehidupan realita. Padahal belum tentu semua yang terdapat pada tayangan itu adalah kejadian-kejadian yang sering terjadi dikehidupan kita. Karena jika ditelaah, semua yang terdapat pada reality show atau sinetron adalah hasil dari skenario belaka.
Lebih jauh dalam Teori Kultivasi dijelaskan bahwa pada dasarnya ada 2 (dua) tipe penonton televisi yang mempunyai karakteristik saling bertentangan/bertolak belakang, yaitu (1) para pecandu/penonton fanatik (heavy viewers) adalah mereka yang menonton televisi lebih dari 4 (empat) jam setiap harinya. Kelompok penonton ini sering juga disebut sebagai khalayak ‘the television type”, serta 2 (dua) adalah penonton biasa (light viewers), yaitu mereka yang menonton televisi 2 jam atau kurang dalam setiap harinya. Dan teorikultivasi ini berlaku terhadap para pecandu / penonton fanatik, karena mereka semua adalah orang-orang yang lebih cepat percaya dan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi itulah dunia senyatanya.
Pada dasarnya, Teori Kultivasi pertama kali di kemukakan oleh George Gerbner bersama rekan-rekannya di Amenberg School of Communication di Pennsylvania pada tahun 1969, dalam sebuah artikel yang berjudul “the television of violence” yang berisikan bagaimana media massa khususnya televisi menampilkan adegan-adegan kekerasan di dalamnya. Teori kultivasi ini muncul dalam situasi pada saat terjadi perdebatan antara kelompok ilmuwan komunikasi yang meyakini bahwa efek sangat kuat dari media massa.
Teori Kultivasi muncul untuk meyakinkan orang bahwa efek media massa lebih bersifat kumulatif dan lebih berdampak pada tataran social budaya ketimbang individual. Signorielli dan Morgan pada tahun 1990 mengemukakan bahwa analisis kultivasi merupakan tahapan lanjutan dari penelitian efek media yang sebelumnya dilakukan Gerbner yaitu “Cultural Indicator” yang menyelidiki Proses institusional dalam produksi isi media, image atau kesan isi media serta hubungan antara terpaan pesan televisi dengan keyakinan dan perilaku khalayak.
Dalam penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Gerbner diketahui bahwa penonton Televisi dalam kategori berat mengembangkan keyakinan yang berlebihan mengenai dunia sebagai tempat yang berbahaya dan menakutkan. Sedangkan kekerasan yang mereka saksikan di Televisi menambah ketakutan sosial yang membangkitkan pandangan bahwa lingkungan mereka tidak aman dan tidak ada orang yang dapat dipercaya.
KAJIAN TEORI KULTIVASI TeoriKultivasi menganalisis tayangan televisi telah menjadi teman keseharian oleh kebanyakan orang dalam keluarga di amerika serikat, karena Teori ini memprediksikan dan menjelaskan pembentukan persepsi, pemahaman, dan keyakinan jangka panjang tentang dunia ini sebagai hasil dari mengkonsumsi isi media. Gerbner (1999) mengemukakan bahwa “sebagian besar yang kita ketahui, atau yang kita pikir kita ketahui, adalah tidak pernah kita alami sendiri”.
Banyak hal yang kita ketahui itu karena yang kita lihat dan kita dengar dari media. Teori Kultivasi terus mengalami evolisi bertahun-tahun lamanya, melalui serangkaian metode dan teori yang dilakukan ole h Gerbner dan rekan-rekannya. ASUMSI DASAR TEORI KULTIVASI Terdapat tiga asumsi dasar teori kultivasi yang dikemukakan oleh Gerbner yaitu : 1). Secara Esensial Dan Fundamental Televisi Berbeda Dengan Media Yang Lain. Asumsi ini menunjukkan bahwa spesifikasi keunikan dari Televisi yaitu kelebihan Televisi menjadikannya istimewa seperti televise tidak memerlukan sederetan huruf-huruf seperti halnya media cetak lainnya, televisi bersifat audio dan visual yang dapat dilihat gambar dan suaranya, Televisi tidak memerlukan Mobilitas atau memutar tayangan yang disenangi dan karena aksesibilitas dan avaibilitasnya untuk setiap orang membuat Televisi menjadi pusat kebudayaan masyarakat kita. 2). Televisi Membentuk Cara Kita Berfikir Dan Berhubungan.
Asumsi ini masih berkaitan dengan pengaruh tayangan Televisi, pada dasarnya Televisi tidak membujuk kita untuk benar-benar meyakini apa yang kita lihat di Televisi, berdasarkan asumsi ini, Teori Kultivasi mensuplay alternative berfikir tentang tayangan kekerasan di Televisi. 3). Televisi Hanya Memberi Sedikit Dampak. Asumsi yang terakhir ini mungkin agak berbeda dengan asumsi dasar Teori Kultivasi, namun Gerbner memberiikan analogi ice age untuk memberi jarak antara teori kultivasi dan asumsi bahwa Televisi hanya memberikan sedikit efek atau dampak. Dalam analogi ice age menganggap bahwa Televisi tidak harus mempunyai dampak tunggal saja akan tetapi mempengaruhi penontonnya melalui dampak kecil yang tetap konstan.
"Kalau saja lihat anak-anak sekarang itu seharian bisa duduk di (depan) televisi, mau acara apapun itu mereka lihat. Kalau saja acaranya mendidik, itu tidak apa-apa. Namun faktanya 60 persen acara tidak mendidik. Mau jadi apa generasi bangsa ini. Dan fakta ini hampir merata dari kota sampai ke kampung,” kata mantan ASOPS TNI ini.
Selama ini dia mengakui bahwa aduan dari masyarakat terus membanjiri KPI terhadap konten-konten yang dianggap tidak pantas.
Televisi sebagai kebutuhan primer.
Tidak dapat dipungkiri, kemajuan jaman yang terjadi sekarang ini memberikan kemudahan serta mampu mendekatkan yang jauh. Di era informasi sekarang, televisi sepertinya telah menjadi kebutuhan hidup. Hampir disetiap rumah memiliki telivisi sebagai akses terhadap informasi utama mereka. Tidak hanya itu saja, televisi juga dijadikan sarana hiburan murah meriah bagi keluarga. Beragam program dan acara disuguhkan untuk memberikan informasi terbaru ataupun sekedar memberikan hiburan di waktu senggang. Walau kini telah ada internet, namun dominasi televisi sebagai sumber informasi dan hiburan yang murah meriah belum dapat tergantikan. Rasa-rasanya, masyarakat tidak mampu untuk hidup sehari saja tanpa televisi.
Komersialisasi yang tidak dibarengi dengan tanggung jawab moral.
Pada awal kemunculan televisi, masyarakat harus membayar untuk dapat menikmati siaran berita atau acara kesenian yang disiarkan oleh TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi kala itu. Pada masa itu, acara televisi pun dapat dihitung dengan jari. Namun walaupun sedikit, acara-acara yang disajikan berisikan nilai moral, sejarah maupun perjuangan yang positif. Saat ini, tidak kurang 15 stasiun televisi lokal dan nasional dapat kita nikmati. Tak kurang ratusan acara televisi dapat kita tonton nonstop 24 jam dan perlu lagi harus membayar iuran apapun. Kita hanya harus merelakan waktu menonton kita disela oleh iklan sebagai gantinya. Tak dapat dipungkiri, televisi kini telah menjadi lahan bisnis yang menguntungkan bagi mereka yang mempunyai modal besar. Komersialisasi televisi saat ini sesungguhnya memberikan keuntungan yang besar bagi kita selaku penonton. Setiap stasiun televisi berlomba-lomba menyugukan tayangan terbaik mereka mulai dari berita, film hingga acara-acara hiburan. Tayangan-tayangan tersebut sejatinya sangat bagus bila dikemas secara bertanggung jawab dan mendidik. Namun sayangnya, persaingan bisnis yang makin ketat membuat para stasiun televisi berlomba-lomba mengejar target iklan serta mengesampingkan tanggung jawab moral. Banyak sekali tayangan dan tontonan yang kurang mendidik, mempertontonkan akhlak yang buruk serta hanya menampilkan gaya hidup hedonis yang siap meracuni para penontonnya terutama remaja dan pemuda.
Rendahnya standard pengawasan membuat beberapa tayangan televisi berkualitas sangat rendah.
Sebenarnya untuk membendung komersialisasi tayangan yang hanya menguntungkan pengusaha (pemilik stasiun televisi), di Indonesia telah ada lembaga khusus yang bertugas mengawasi tayangan maupun siaran televisi. Setidaknya ada 2 lembaga yang bertanggung jawab akan kualitas tayangan yang kita tonton yaitu Lembaga Sensor Indonesia (LSI) dan KomisiPenyiaran Indonesia (KPI). Namun sampai saat ini, peran kedua lembaga tersebut kurang maksimal. Masih banyak tayangan-tayangan yang tak layak dan tidak mencerminkan budaya Indonesia sebagai negeri timur yang santun.
Belum adanya regulasi dan standard yang pasti akan mutu tayangan menjadi sebab banyaknya tayangan yang tidak layak justru malah tayang dan bahkan digemari oleh masyarakat. Sebagai contoh dalam hal berpakaian, seorang pelajar yang baik akan memasukkan bajunya kedalam celana atau rok serta bagi siswi mengenakan rok dibawah lutut. Namun kenyataannya, dalam berbagai tayangan dan hampir 100 persen -baik film maupun sinetron- nilai-nilai tersebut seperti diabaikan. Yang ada justru para siswa memakai pakaian tidak rapi, sementara siswinya berpakaian bak model yang mengenangkan rok mini dan pakaian ketat yang sangat tidak mencerminkan nilai-nilai seorang pelajar. Tayangan-tayangan yang tidak bermutu inilah yang secara sadar atau tidak dicontoh dan ditiru generasi muda -terutama pelajar- kita.
Memang tidak dapat dipungkiri, peran KPI dan LSI dalam membendung tayangan yang negatif sangat besar. Telah banyak tayangan yang diberikan teguran bahkan sampai dihentikan penayangannya oleh KPI. Namun yang sangat disayangkan, penghentian penayangan sering kali bukan karena inisiatif dari KPI sendiri namun karena banyaknya komplain dari masyarakat.
Kebutuhan masyarakat akan televisi sebagai media hiburan yang murah, tidak didukung oleh regulasi yang jelas untuk menjaga kualitas tayangan televisi tersebut. Akibatnya, sebagian besar acara televisi pada jam utama (prime time) berisikan tanyakan yang tidak mendidik. Disadari atau tidak, tayangan ini telah merasuk dan membekas dalam ingatan para remaja. Dan tidak bisa dipungkiri, degradasi moral remaja yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari peran televisi. Tidak hanya itu, cara berpakaian, tingkah laku dan gaya hidup remaja saat ini telah berkiblat ke televisi sampai mereka tidak lagi memiliki jati diri.
Ketika para remaja mengalami krisis jati diri dan kepribadian, maka sangatlah mudah bagi mereka terombang-ambing mengikuti apapun yang mereka lihat dan denger tanpa adanya filter yang membendungnya. Mudah bagi mereka meniru cara berpakaian, gerakan, tutur kata bahkan tingkah laku idolanya di televisi. Tidak kah kita sedih melihat generasi penerus bangsa ini tidak memiliki kebanggaan sama sekali terhadap diri dan jati diri bangsanya?

Pemerintah dan Keluarga bertanggung jawab dalam memfilter tayangan di televisi.
Sudah saatnya kita semua sadar dan bertanggung jawab terdahap apa yang mereka dengar dan lihat. Pemerintah harus membuat peraturan yang tegas tentang tontonan di televisi. Tidak hanya itu saja, peran serta keluarga sangatlah penting. Jangan biarkan anak-anak kita menonton televisi sendirian tanpa ditemani oleh orang dewasa yang bertanggung jawab. Kesadaran akan pentingnya memfilter tayangan anak harus ditumbuhkan dalam keluarga agar tercipta iklim yang sehat bagi tumbuh kembang anak.

Mereka adalah cerminan masa depan bangsa.
Menjamin kualitas tontonan mereka adalah bukti tanggung jawab kita akan keberlangsungan bangsa ini. Keceriaan mereka adalah cerahnya masa depan, jangan biarkan keceriaan mereka direnggut oleh tontonan yang tidak bermutu dan mendidik. Mereka adalah cerminan masa depan bangsa.





0 komentar:

Poskan Komentar