Cari Blog Ini

Sabtu, 28 Mei 2011

Pop Culture Sepeda Trendy "Sepeda Fixie"



Mendengar istilah pop culture atau budaya populer mungkin kita akan mengingat tentang kehidupan manusia yang sangat dekat hubungannya dengan budaya. Memang demikian, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk budaya. Manusia di sebut makhluk budaya karena manusia di ciptakan sejak lahir sudah dibekali dengan akal, perasaan, kehendak untuk berbuat baik, memiliki jiwa dan perasaan (Amri Sihontang, 6 :2010). Hal tersebut juga yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain.
Kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta Budhayah yaitu bentuk jamak kata Buddhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Inggris, kata budaya berasaal dari kata culture, dalam bahasa belanda diistilahkan dengan kata cultuur, dala bahasa latin berasal dari kata colera. Colera berarti mengolah, Mengerjakan, menyuburkan, mengembangkan tanah (bertani). Pengertian ini kemudian berkembang dalam arti culture, yaitu segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Pengertian budaya atau kebudayaan dikeukakan oleh beberapa ahli di antaranya E. B Taylor, budaya adalah seatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, mral, keilmuan, hukum , adat istiadat, dan kemampuan yang laim serta kebiasaan yang di dapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. (Amri Sihontang, 8 :2010) . Sedangkan kata populer atau populer adalah diterima oleh banyak orang, disukai atau disetujui oleh masyarakat banyak.
Wujud kebudayaan menurut Koentjaraningrat dibagi menjadi tiga wujud, yaitu wujud sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan; wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas sera tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. (Amri Sihontang, 10:2010). Wujud budaya populer pun serupa, sangat beragam dari gagasan, ide, tingkah laku dan berbagai macam poduk.
Kebudaya mempunyai sifat statis dan dinamis. Kebudayaan di katakan statis jika suatu kebudayaan mengalami perubahan sedikit dalam tempo waktu yang lama, dan dikatakan dinamis jika kebudayaan berubah dalam waktu yang sangat singkat. kebudayaan selalu berubah seiring dengan perkembangan masyarakat yang ada.
Perkembangan zaman mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala bidang, termasuk dalam hal kebudayaan. Mau tidak mau kebudayaan yang dianut suatau kellompok sosial akan bergeser. Cepat atau lambat pergeseran ini akan menimbulkan konflik antara kelompok-kelompok yang menghendaki perubahan. Suatu komunitas dalam kelompok sosial bisa saja menginginkan adanya perubahan dalam kebudayaan yang mereka anut, dengan alasan sudah tidak sesuai lagi dengan zaman yang mereka hadapi saat ini. Namun, perubahan kebudayaan ini kadang kala disalah artikan menjadi suatu penyimpangan kebudayaan. Interpretasi ini mengambil dasar adanya budaya-budaya baru yang tumbuh dalam komunitas mereka yang bertentangan dengan keyakinan mereka sebagai penganut kebudayaan tradisional selama turun menurun. (Amri Sihontang,15:2010)
Menurut Dominic Strinati budaya populer tumbuh secara spontan dari grass-root, tercipta secara otomatis, otonom, dan secara langsung merefleksikan hidup dan pengalaman masyarakat tersebut. Budaya populer mupakan wujud dari perubahan dari sistem pengetahuan, nilai-nilai dan pandangan hidup masyarakat modern. Tetapi coba kita amati sejenak apakah benar budaya populer datang secara spontan ? Atau ada proses penanaman ide yang membuat budaya itu bisa disukai banyak orang?
Dalam upaya menjawab pertanyaan di atas, saya merasa perlu untuk menyertakan beberapa istilah yang lekat dengan ‘budaya populer’. Istilah-istilah tersebut adalah pemodal, industri, produk, media massa, iklan, konsumen, dan uang. Lekatnya ‘budaya populer’ dengan istilah-istilah di atas menunjukkan bahwa ia tidak lepas dari suatu sistem. Yang berarti, segala yang populer adalah hasil dari konstruksi. Bukan sesuatu yang alami. Sistem itulah yang kemudian mempopulerkan sesuatu dengan cara memproduksinya, mengkomersialisasikannya, dan mengiklankannya supaya banyak orang mengkonsumsinya. Semakin banyak yang mengkonsumsi, makin banyak pula uang yang masuk ke kantong pengendali sistem, yakni pemilik modal.
Budaya populer ternyata tidak muncul begitu saja secara alamiah. Peran media massa dalam menyampaikan informasi secara persuasif yang tanpa sadar telah mengubah pengetahuna, sikap dan perilaku kita. Memang tidak kita sangkal jika saat ini adalah era komunikasi di mana informasi dapat kita dapatkan dengan sangat mudah dengan berbagai teknologi yang ada.
Manusia menjadi sasaran empuk bagi pemilik modal untuk mendapatatkan keuntungan sebesar-besarnya. Dengan media seakan manusia manusia menjadi sangat pasif, lembek dan mudah untuk dimanipulasi. Cukup dengan beriklan di televisi pemilik modal dapat mengubah persepsi seseorang dengan sangat cepat, mana yang keren mana yang tidak, mana yang trendi mana yang kuno. Padahal trend itu selalu berputar dan selalu mengalami siklus, tapi pemilik modal dapat mengubah tend menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi segera.
***
Contoh yang sedang ngetrend saat ini adalah fixed gear atau yang biasa di sebut fixie. Saat ini orang-orang sedang berbenah untuk memperbaiki sepeda menjadi sepeda fixie karena trend sepeda MTB sudah ketinggalan jalan. Orang sudah bosan untuk bermain sepeda lompat-lompatan di jalur offroad dan berganti bermaian sepedaan kota terlebih ketika ada car free day.
Sebetulnya sepeda fixie sudah ada sejak lama. sepeda fixed gear itu awal nya hanya di pakai saat kejuaraan sepeda balap di lintasan “velodrome". Velodrome adalah sebuah lintasan balap sepeda yang jalurnya berbentuk oval dan tidak mempunyai ujung, setiap sepeda akan berputar mengelilingan untuk lap yang sudah di tentukan. Lintasan yang berbentuk oval dan dengan tingkat kemiringan tertentu membuat pembalap harus selalu mengayuh sepedanya agar tidak terjatuh dalam lintasan.

Sepeda fixie seakan menjadi sepeda yang paling keren di banding dengan sepeda-sepeda yang lainnya. Warna rangkanya yang mencolok, pelek sepeda yang lebar dan warna warni serta ban nya yang kecil dan ramping seakan juga membuat pengendaranya menjadi keren dan trendi saat sepedaan. Sedangkan sepeda yang lain seakan sudah kuno dan ketinggalan zaman.
Padahal sepeda Fixie sudah di ada di Indonesia sejak lama, hanya namanya adalah sepeda Fix Gear atau doltrap. Dahulu sepeda jenis ini hanya di gunakan sepeda onthel yang besar dan kebanyakan di gunakan orang-orang di desa. Sepeda ini cocok di gunakan di daerah pedesaan karena di desa jalannya masih sepi, sehingga walupun tidak menggunakan rem sepeda ini aman di kendarai.
Sepeda fixie tidak serta merta langsung digemari banyak orang. Sepeda fixie menjadi sangat trend saat banyak kota-kota besar yang mengeluarkan kebijakan car free day. Komunitas fixie menjadi menjamur di kota kota besar. Banyak di bincangkan di televisi, majalah dan koran. Ada liputan khusus sepeda fixie, sampai pemain persib bandung datang ke stadion juga memakai sepeda fixie. Tentu menjadi magnet bagi orang-orang menjadi sangat tertarik dan mengubah sepeda mereka menjadi sepeda fixie.
***
Ternyata munculnya sepeda Fixie juga di ikuti dengan banyaknya penjualan spare part sepeda menyediakan berbagai aksesoris, dari ban warna warni sampai pelek yang lebar dan berwarna.
Sebuah trend di selalu di ikuti dengan nilai kebutuhan yang juga bertambah. Orang merasa butuh mengubah sepeda yang standar menjadi Fix Gear, membutuhkan warna baru untuk rangka mereka dan sebaginya.
Sebetulnya nilai kebutuhan itu muncul karena kita tidak mau di sebut kuno atau ketinggalan zaman. Sebetulnya itu adalah sebuah kebutuhan yang semu. Padahal dengan menggunakan sepeda yang standar akan lebih nyaman dan aman, karena ada pengaturan gear yang membantu kita menyesuaikan dengan keadaan jalan dan ada brake atau rem yang membantu kita menghentikan laju sepeda .
Akan tetapi ke populeran menghalangi nilai rasionalitas. Populer menghalangi daya pikiran kita dan menghasilkan kebutuhan-kebutuhan semu yang harus kita penuhi agar tidak di sebut kuno.
Sekali lagi media telah mempercundangi kita untuk menjadi pengikut setianya. Propaganda media telah memperdayai kita atas nama populer. Siapa yang diuntungkan ? yang di untungkan adalah pabrik sepeda, sparpart dan toko-toko yang menjual beraneka pernak-perniknya yang bisa kita sebut sebagai pemilik modal.
Memahami budaya populer sebagai hasil konstruksi pemilik modal berarti juga menerima kenyataan diri sebagai pelaku budaya populer –identik dengan sikap pasif (Strinati: 1995, 15)- yang tak lebih dari sekadar pion-pion yang digerakkan. Kalau sudah paham akan hal itu, menurut saya tak butuh penjelasan panjang lebar tentang eksploitasi pemilik modal, atau yang keren disebut kapitalis, atas buruh untuk membuktikan bahwa kapitalisme memang kejam. Kekejamannya toh sudah dirasakan oleh kita, kaum muda, yang bukan (atau bisa jadi hanya belum menjadi) buruh. Disadari atau tidak, kita adalah korban pemiskinan oleh pemilik modal. Sebabnya, kita dibuat menjadi konsumtif karena kebutuhan kita terus diciptakan. Kalau masih tidak percaya, bagi yang merasa diri populer, cobalah tengok lemari pakaian Anda dan lihat adakah baju dalam kondisi bagus yang tak lagi Anda pakai karena (katanya) sudah tidak trendi lagi? Jika ada, selamat, Anda terbukti menjadi korban pemilik modal! Jadi, mari bertanya pada diri masing-masing,)

0 komentar:

Poskan Komentar