Cari Blog Ini

Jumat, 30 Mei 2014

Konglomerasi Media "Peta Dukungan Media dalam Pripres 2014"


Konglomerasi media
Analisis Peta Dukungan Media dalam Pripres 2014

Konglomerasi media akan sangat berbahaya, jika telah berbaur dengan dunia politik. Di indonesia saat ini bahaya itu sedang mengancam, dengan saling dukung dan saling pukul antara pemilik media, karena menjadi aktor di belakang layar pemilihan pemilihan presiden 2014. Masyarakat harus tahu bagaimana media tidak selalu menginformasikan berita yang berimbang. Aneka kepentingan di dalamnya kadang membuat berita yang seharusnya berisi fakta menjadi berita yang hanya opini belaka. Masyarakat harus jeli dan jangan sampai tertipu. Masih adanya proses agenda setting dan framing yang dilakukan oleh media yang disesuaikan dengan kepentingan pemilknya. Kebenaran yang tidak didapatkan masyarakat tersebut dapat menyebabkan masyarakat terhegemoni dengan menerima kebenaran versi media massa.
Kita analisa secara sederhana,
  1. Kedekatan Chaerul Tanjung dengan megawati mengindikasikan gerbong yang dibekangnya  Trans7, Trans TV dan detik.com berada pada payung bisnis yang sama yakni Trans Corp Mendukung JOKOWI
  2. Pernyataan Hary Tanoesoedibyo yang dukung Prabowo, memastikan Global TV, RCTI, TPI bergabung dalam Group MNC, Sindo TV, MNC TV, Koran Sindo, Trust, MNC Radio pasti dukung PRABOWO
  3. Abu Rizal bakrie juga dukung prabowo, TV One dan ANTV bernaung di bawah bendera Bakrie Group pasti dukung PRABOWO
  4. SCTV dan Indosiar  yang sebahagian besar sahamnya dimiliki oleh Eddy Sariatmadja ini dukung siapa ya ? abu-abu
  5. Metro TV dan media Indonesia dengan bergabungnya  Surya Paloh (nasdem ke PDIP) Jelas akan dukung JOKOWI
  6. Kemudian ada Kelompok Jawa Pos, pemiliki koran Jawa Pos dan Rakyat Merdeka. Jaringannya di daerah-daerah juga cukup kuat, dengan merek Radar. Kelompok media ini didirikan dan dimiliki oleh PT Grafiti Pers, yang juga pendiri Tempo, setelah diambil-alih dari pemilik sebelumnya.Kelompok Jawa Pos yang dikelola dan dibesarkan oleh Dahlan Iskan, kini Menteri Negara BUMN, dikabarkan berada di belakang barisan JOKOWI.
Tentu saja kita harus selalu berhati-hati, karena media juga punya kepentingan, tidak selalu netral seperti yang kita bayangkan.  Pesannya selalu gunakan logika dan hati nurani, jangan tergesa-gesa menyimpulkan pemberitaan suatu media, tenang dan cari referensi lain. Bisa saja benar atau malah menyesatkan. 


Intervensi Pemilik Media "Konglomerasi Media"
Bahaya Konglomerasi Media
Dampak Konglomerasi Media 
Regulasi atau Aturan Konglomerasi Media Di Indonesia 

0 komentar:

Poskan Komentar