Cari Blog Ini

Senin, 22 Juni 2015

Konglomerasi Media yang Terjadi Di Indonesia

 Konglomerasi Media yang Terjadi Di Indonesia

Konglomerasi Media adalah penggabungan-penggabungan perusahaan media menjadi perusahaan yang lebih besar yang membawahi banyak media. Konglomerasi ini dilakukan dengan melakukan korporasi dengan perusahaan media lain yang dianggap mempunyai visi yang  sama. Pembentukan konglomerasi ini dengan cara kepemilikan saham, joint venture / merger, atau pendirian kartel komunikasi dalam skala besar. Akibatnya kepemilikan media yang berpusat pada segelintir orang.
 

1.      Kelompok Kompas Gramedia
Kelompok Kompas Gramedia. Dengan kepemilikan suratkabar nasional, 27 koran daerah, 48 majalah, 3 tabloid, 7 penerbit buku, 12 stasiun radio, 10 jaringan stasiun televisi, dan beberapa macam media online Kelompok Kompas Gramedia menjadi salah satu media yang terbesar di Indonesia. Ditambah lagi dengan kepemilikan jaringan bisnis non media yang tidak kalah banyak jumlahnya. Ada dua hal utama yang menyokong pertumbuhan konglomerasi Kelompok Kompas Gramedia, yakni: teknologi dan regulasi. Teknologi adalah salah satuelemen kunci yang memfasilitasi perubahan struktur dan kemajuan industri media. Proses diversifikasi media cetak, broadcasting, dan new media menjadi mungkin dengan bantuan teknologi. Dengan teknologi cetak jarak jauh, berkembangnya teknologi penyiaran, dan jaringan internet yang tidak terbatas, pertumbuhan raksasa media bermodal besar akan menjalar kemana-mana. Berbagai regulasi media di Indonesia juga berperan sangat penting dalam pertumbuhan dan ekspansi bisnis Kelompok Kompas Gramedia. konglomerasi media. Regulasi antimonopoli, aturan kepemilikan media, produksi, dan distrbusi produk media yang ketat akan berpengaruh pada sektor pertumbuhan industri. Dan sebaliknya, pelonggaran aturan dan suasana politik proindustri akan memberikan konstribusi signifikan terhadap pertumbuhan konglomerasi media. Selain teknologi dan regulasi hal yang menyokong pertumbuhan usaha, dalam praktiknya Kelompok Kompas Gramedia juga memiliki banyak strategi bisnis, antara lain: growth, integrasi, dan globalisasi. Di dalam tiga konsep besar itu termuat delapan strategi yang dapat dijelaskan secara teknis, yakni: memperbesar ukuran (size), branding, marketing, sinergi, spesialisasi dan segmentasi, diversifikasi, joint venture, dan globalisasi.[9]
2.      Trans Corp (PT Trans Corporation)
Trans Corp (PT Trans Corporation) sebelumnya bernama PT Para Inti Investindo adalah unit usaha CT Corp di bidang media, gaya hidup, dan hiburan. Pada awalnya, Trans Corp didirikan sebagai penghubung antara stasiun televisi Trans TV dengan stasiun televisi yang baru saja diambil alih 49% kepemilikan sahamnya oleh CT Corp dari Kelompok Kompas Gramedia, Trans7 (dulunya TV7). Trans Corp dimiliki oleh CT Corp yang dimotori Chairul Tanjung.[10]
Unit usaha :
·    PT Trans Media Corporation
o    Penyiaran
§    PT Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV)
§    PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh (Trans7)
o    Situs online
§    PT Agranet Multicitra Siberkom
§    DetikCom
o    Rumah produksi
§    PT Transinema Pictures
o    TV Berbayar
§    PT. Indonusa Telemedia (TelkomVision)[1]
·    PT Trans Lifestyle
o    PT Anta Express Tour & Travel Service Tbk (Antatour)
o    PT Trans Fashion
§    PT Trans Mahagaya
§    PT Mahagaya Perdana (Prada, Miu Miu, Tod’s, Aigner, Brioni, Celio, Hugo Boss, Francesco Biasia, Jimmy Choo, Canali, Mango)
o    PT Trans F&B
§    PT Trans Coffee (The Coffee Bean & Tea Leaf)
§    PT Trans Ice
§    PT Naryadelta Prarthana (Baskin-Robbins)
o    PT Metropolitan Retailmart (Metro Department Store)
o    PT Trans Airways
§    PT Garuda Indonesia Tbk (Garuda Indonesia)[2]
o    PT Trans Rekan Media
o    PT Trans Entertainment
·    PT Trans Property (dahulu PT Para Inti Propertindo)
o    PT Para Bandung Propertindo (Bandung Supermal)
o    PT Ibis Hotel
o    PT Batam Indah Investindo
o    PT Mega Indah Propertindo
o    PT Para Bali Propertindo
o    PT Trans Studio
§    PT Trans Kalla Makassar (Trans Studio Resort Makassar)
§    PT Trans Santana Palembang (Trans Studio Resort And Hotel Palembang)
·    PT Trans Ritel
3.      PT Media Nusantara Citra Tbk
PT Media Nusantara Citra Tbk (IDX: MNCN), lebih dikenal dengan nama MNC Media merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang media yang berpusat di Jakarta, Indonesia, didirikan pada tahun 1997. Saat ini, mayoritas sahamnya dikuasai oleh Global Mediacom. Direktur Utamanya hingga saat ini adalah Hary Tanoesoedibjo. Pada 17 Oktober 2011, perusahaan investasi asal Amerika Serikat yang berbasis di Los Angeles, Saban Capital Group membeli 7.5% saham MNC Group

            Unit usaha :

Penyiaran

Televisi

·    PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI)
·    PT Global Informasi Bermutu (Global TV)
·    PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (MNCTV)
·    PT Sun Televisi Network (SINDOtv)

Radio

o    PT Radio Trijaya Shakti (Sindo Trijaya FM)
§    PT Radio Prapanca Buana Suara
§    PT Radio Mancasuara
§    PT Radio Swara Caraka Ria
§    PT Radio Efkindo
§    PT Radio Citra Borneo Madani
§    PT Radio Suara Banjar Lazuardi
§    PT Radio Cakra Awigra
o    PT Radio Suara Monalisa (Radio Dangdut Indonesia)
§    PT Radio Mediawisata Sariasih

Lain - Lain

·    Media Nusantara Citra B.V.
·    MNC International Middle East Limited
o    MNC International Limited
§    Linktone Indonesia
o    MNC Pictures FZ LLC

Media cetak

·    PT Media Nusantara Informasi (Koran Sindo)
·    PT MNI Global (Genie, Mom & Kiddie, Realita)
·    PT Hikmat Makna Aksara (Sindo Weekly)
·    PT MNI Entertainment (HighEnd, HighEnd Teen, Just for Kids Magazine)

Agensi periklanan

·    PT Cross Media Internasional
o    PT Mediate Indonesia
o    PT Multi Advertensi Xambani
§    PT Citra Komunikasi Gagasan Semesta

Manajemen artis

Musik

Perusahaan rekaman

·    Hits Records

Rumah produksi

·    PT MNC Pictures
·    SinemArt
·    Layar Production (2009)

Situs online

·    PT Okezone Indonesia
o    Okezone.com
§    SINDOnews.com
4.      Grup Jawa Pos
Grup Jawa Pos atau Jawa Pos Group atau Jawa Pos National Network (JPNN) adalah perusahaan yang menaungi lebih dari 151 surat kabar daerah dan nasional, yang paling terkenal adalah Jawa Pos, dan belasan tabloid, majalah, dan televisi daerah. Surat kabar daerah yang berada di bawah payung Grup JP kebanyakan berawalan "Radar", seperti Radar Surabaya, Radar Solo, dsb. Berikut ini adalah daftar anak perusahaan Grup JP:

Surat Kabar

Sumatera

·    Riau Pos (Pekanbaru)
·    Pekanbaru Pos (Pekanbaru)
·    Radar Pat Petulai (Bengkulu/Rejang Lebong)
·    Dumai Pos (Dumai)
·    Sumut Pos (Medan)
·    Metro Siantar (Siantar)
·    Pos Metro Medan (Medan)
·    Padang Ekspres (Padang)
·    Pos Metro Padang (Padang)
·    Batam Pos (Batam)
·    Pos Metro Batam (Batam)
·    Sumatera Ekspres (Palembang)
·    Palembang Pos (Palembang)
·    Radar Palembang (Palembang)
·    Palembang Ekspres (Palembang)
·    Palembang Independent (Palembang)
·    Pos Metro Palembang (palembang)
·    Rakyat Palembang (palembang)
·    Jambi Independent (Jambi)
·    Jambi Ekspres (Jambi)
·    Jambi Pos (Jambi)
·    Radar Jambi (jambi)
·    Pos Metro Jambi (Jambi)
·    Radar Sarko (Bangko)
·    Radar Bute (Bungo)
·    Rakyat Jambi (Jambi)
·    Radar Tanjab (Kuala Tungkal)
·    Sarolangun Ekspres (Sarolangun)
·    Bungo Pos (Muara Bungo)
·    Linggau Pos (Lubuk Linggau)
·    Bangka Belitung Pos (Pangkalpinang)
·    Rakyat Bengkulu (Bengkulu)
·    Bengkulu Ekspress (Bengkulu)
·    Radar Lampung (Lampung)
·    Rakyat Lampung (Lampung)
·    Rakyat Aceh (Banda Aceh)
·    Metro Aceh (Banda Aceh)
·    Radar Bute (Bungo)

Jakarta

·    Indopos
·    Rakyat Merdeka
·    Bibir Mer
·    Bollywood
·    Sinar Glodok
·    Lampu Hijau
·    Guo Ji Ri Bao
·    Pos Metro

Banten dan Jawa Barat

·    Radar Banten (Banten)
·    Satelit News (Banten)
·    Banten Raya Post (Banten)
·    Radar Bandung (Bandung)
·    Radar Bogor (Bogor)
·    Radar Cirebon (Cirebon)
·    Radar Karawang (Karawang, Purwakarta dan Subang)
·    Pasundan Ekspres (Purwakarta, Karawang & Subang)
·    Radar Tasikmalaya (Tasikmalaya)
·    Radar Bekasi (Bekasi)
·    Radar Sukabumi (Sukabumi)
·    Bandung Ekspres (Bandung)
·    Sumedang Ekspres (Sumedang)
·    Cianjur Ekspres (Cianjur)
·    Cianjur Ekspres (Cianjur)

Jawa Tengah dan DIY

·    Meteor (Semarang)
·    Radar Tegal (Tegal)
·    Radar Pekalongan (Pekalongan)
·    Radar Banyumas (Purwokerto)
·    Radar Semarang (Semarang)
·    Radar Kudus (Kudus)
·    Radar Solo (Solo)
·    Radar Jogja (Yogyakarta)
·    Semarang Post (Semarang)

Jawa Timur

·    Radar Banyuwangi (Banyuwangi)
·    Radar Mojokerto (Mojokerto)
·    Radar Jember (Jember)
·    Radar Madiun (Madiun)
·    Radar Bromo (Probolinggo)
·    Radar Kediri (Kediri)
·    Radar Bojonegoro (Bojonegoro, Lamongan, Tuban, Blora)
·    Radar Surabaya (Surabaya)
·    Malang Post (Malang)
·    Radar Malang (Malang)
·    Memorandum (Surabaya)
·    Rek Ayo Rek (Surabaya)
·    Radar Madura (Pulau Madura)
·    Radar Tulungagung (Tulungagung)

Bali dan Nusa Tenggara

·    Lombok Post (Mataram)
·    Timor Ekspres (Kupang)
·    Radar Bali (Bali)
·    Bali Express (Bali)

Kalimantan

·    Pontianak Pos (Pontianak)
·    Harian Equator (Pontianak)
·    Metro Pontianak (Pontianak)
·    Kapuas Pos (Kapuas)
·    Kalteng Pos (Palangkaraya)
·    Radar Sampit (Sampit)
·    Radar Banjarmasin (Banjarmasin)
·    Kaltim Post (Balikpapan)
·    Post Metro Balikpapan (Balikpapan)
·    Berau Post (Tanjung Redeb)
·    Bontang Post (Bontang)
·    Radar Nunukan (Nunukan)
·    Samarinda Pos (Samarinda)
·    Kaltara Pos (Tarakan)
·    Radar Tarakan (Tarakan)

Sulawesi

·    Fajar (Makassar)
·    Berita Kota Makassar (Makassar)
·    Pare Pos (Pare Pare)
·    Palopo Pos (Palopo)
·    Radar Sulbar (Sulawesi Barat)
·    Ujungpandang Ekspres (Makkasar)
·    Radar Bone (Sulawesi Selatan)
·    Radar Bulukumba (Sulawesi Selatan)
·    Rakyat Sulsel (Sulawesi Selatan)
·    Kendari Pos (Kendari)
·    Kendari Ekspres (Kendari)
·    Radar buton (Sulawesi Tenggara)
·    Radar Sulteng (Palu)
·    Palu Ekspress (Palu)
·    Manado Post (Manado)
·    Posko (Manado)
·    Radar Manado (Manado)
·    Tribun Sulut (Manado)
·    Gorontalo Post (Gorontalo)
·    Radar Gorontalo (Gorontalo)
·    Luwuk Post (Luwuk)

Maluku

·    Ambon Ekspres (Maluku)
·    Radar Ambon (Maluku)
·    Malut Pos (Ternate)

Papua

·    Cendrawasih Pos (Jayapura)
·    Radar Timika (Timika)
·    Radar Sorong (Sorong)

Tabloid

·    Tabloid Nyata
·    Tabloid Posmo
·    Tabloid Cantiq
·    Tabloid Bunda
·    Tabloid Koki
·    Tabloid Tunas
·    Tabloid Modis
·    Tabloid Hikmah
·    Tabloid Nurani
·    Tabloid Suksesi

Majalah

·    Majalah Mentari (Surabaya)
·    Majalah Libertyrftyj (Surabaya)

Stasiun televisi.

Jawa Pos Multimedia Corporation (JPMC)
Selain contoh di atas masih banyak perusahaan media di Indonesia yang sukses melakukan kovergensi dan konglomerasi. Berbicara tentang konvergensi, tentu kita juga akan membicarakan tentang dimensi-dimensi yang ada di dalamnya. Terdapat lima dimensi dalam konvergensi, diantaranya adalah konvergensi teknologi, konvergensi jurnalisme, koordinasi media konten, kolaborasi, dan konsumsi dari konten media. Definisi dari istilah konvergensi banyak berfokus kepada teknologinya. Burnett dan Marshall (2003) misalnya mengatakan “the impact of the web defines convergence as the blending of the media, telecommunications and computer industries, and the coming together of all forms of mediated communication in digital form”. Grant menyebutkan dua perkembangan teknologi spesifik yang sangat penting bagi konvergensi media, yakni teknologi digital (analog-digital) dan jaringan komputer. 
Dari sisi konvergensi jurnalisme, kini kita mengenal berbagai organisasi media yang mulai melebarkan jangkauan informasinya dengan memiliki sebuah ruang berita baru di dunia maya atau media online. Banyak organisasi media yang mendistribusikan konten mereka dari media konvensional seperti TV, radio, dan media cetak ke media online.  Dengan adanya media online, masing-masing organisasi akan dapat meningkatkan kapasitasnya. Semisal media cetak, dengan memiliki media online ia dapat mengolah beritanya menjadi video, galeri foto, dan ruang berita yang lebih luas dibandingkan versi cetak. Selain meningkatkan kapasitasnya, masing-masing dari organisasi itu juga dapat meningkatkan interaktivitas dengan pembaca, misalnya dengan memberi ruang komen, blog, hyperlink, dsb.
Dimensi lainnya dari konvergensi media ialah mengenai kepemilikan (ownership). Konvergensi memungkinkan terjadinya kepemilikan dua atau lebih media dalam melayani satu kesatuan pasar yang sama. Isu inilah yang sangat dekat dengan kondisi industri media di Indonesia, dimana kepemilikan terhadap dua atau lebih jenis media sangat dimungkinkan. Contohnya MNC Grup yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo. Ia berhasil  merajai tidak hanya pasar media cetak, melainkan juga memiliki media siar dan online yang cukup besar dan berpengaruh secara nasional di Indonesia. Konvergensi juga memungkinkan terjadinya kolaborasi. Dewasa ini, kebanyakan organisasi media besar cenderung melakukan kolaborasi atau kerjasama dengan sesama media besar lainnya dibanding melihat hal tersebut sebagai ancaman atau kompetitor.
Hubungan kolaboratif harus saling menguntungkan untuk bertahan. Kekuatan eksternal juga berdampak pada awal dan akhir dari upaya kolaboratif tersebut, hal ini termasuk dari tujuan korporasi dan tawaran dari kompetisi. Untuk mencegahnya dari kecenderungan monopoli, hal ini dapat dicegah dengan adanya pengaturan atau regulasi.
Selain kolaborasi, konvergensi juga memungkinkan adanya koordinasi. Apa yang membedakan antara dimensi kolaborasi dan koordinasi? Kalau kolaborasi cenderung dilakukan oleh antar media besar, koordinasi lebih kepada praktek konvergensi jurnalisme, misalnya berbagi konten berita, personil atau SDM, dsb. Hal ini sering terjadi antar media besar nasional dengan media kecil atau lokal. Motivasi dari koordinasi ini biasanya tidak untuk mencapai skala ekonomi melainkan untuk mencapai visibilitas yang lebih besar di pasar melalui promosi silang atau untuk mengakses sumber daya yang seharusnya tidak tersedia.
Interaktivitas manusia menuntut terciptanya perkembangan teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan manusia untuk terus berinteraksi. Lebih dari itu, kebutuhan akan informasi pun kemudian meningkat seiring dengan berkembangnya interaktivitas manusia. Internet dan konvergensi menyediakan ruang untuk itu. Sedangkan bagi organisasi media, terdapat beberapa alasan kenapa media melakukan konvergensi, diantaranya sebagai berikut; Pertama adalah shared reporting. Dalam ide bisnis konvergensi media dapat menghemat pengluaran. Konvergensi media menekankan sisi efektivitas dan keefisienan dalam sebuah organisasi media karena dapat menggunakan staf sedikit. Kedua adalah Audience, dengan menggabungkan berbagai media sebagai sumber penyebaran informasi, organisasi berita yang terkonvergensi mampu meningkatkan cakupan pembaca atau audience. Ketiga adalah visibilitas, yakni meningkatkan kapabilitas dan kualitas berita.
Selain hal-hal diatas, konvergensi media juga memiliki sisi negatif (the dark side of convergence) yakni adanya kemungkinan tertutupnya persaingan karena bentuk konvergensi berbanding lurus dengan pola konglomerasi media dan akuisisi media oleh organisasi media yang lebih besar sehingga muncul sebuah kepemilikan tunggal dalam sebuah industri media informasi. Lebih jauh, beberapa hal tersebut merupakan hal-hal yang mengancam terciptanya suatu kondisi masyarakat yang demokratis.
Kritik Eoin Devereux terhadap konglomerasi media
Dalam bukunya Understanding The Media Eoin Devereux menuliskan kritiknya atas konglomerasi media. Pertama,secara progresif terjadi konsentrasi kepemilikan media massa oleh segelintir transnational multimedia conglomerates. Kedua, faktanya banyak dari konglomerat ini yang memiliki, mengontrol atau mempunyai kepentingan substansial dalam perusahaan media dan non media. Ketiga, berlanjutnya perdebatan tentang peran ruang publik media yang muncul dari konsentrasi dan konglomerasi yang lebih besar. Peran ruang publik ini menjadi penting karena konsentrasi dan konglomerasi media menyebabkan penguasaan informasi di tangan segelintiran orang. Keempat, konsekuensi dari berita, current affairs dan jurnalisme investigasi kearah hiburan, populisme dan ‘infotainment’. Corak produksi dalam manajemen media yang mengabdi kepada kepentingan pemodal akan menjadikan pemberhalaan, sehingga selera pasar yang kemudian diikuti. Kelima, redefinisi audiens sebagai konsumen bukan lagi warga (citizen). Ini terjadi dikarenakan proses industrialisasi budaya berjalan secara massif. Keenam, akses yang tidak setara terhadap isi media dan teknologi media. Ketujuh, kekuatan ekonomi politik dari individu yang menguasai kekaisaran media.

0 komentar:

Poskan Komentar