Search This Blog

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, May 22, 2016

Teori Kultivasi

Teori Kultivasi


Teori Ini berhubungan dengan pengaruh televisi yang penting, yang oleh para teoretisi disebut kultivasi. Singkatnya, televisi dipercaya menjadi agen penyamaan dalam budaya. Karena televisi merupakan pengalaman umum yang besar dari hampir semua orang, televisi mempunyai pengaruh dalam memberikan cara-ara yang sama dalam memandang dunia.
Televisi adalah sebuah sistem penceritaan yang tersentralisasi. Sistem ini merupakan bagian terpenting dari kehidupan sehari-hari kita. Drama, iklan, berita dan program lainnya menghadirkan sebuah dunia tentang gambaran dan pesan-pesan yang cukup berkaitan ke dalam setiap rumah. Televisi berkembang dari kecenderungan yang sangat kecil dan pilihan-pilihan yang biasa diperoleh dari sumber-sumber utama lainnya. Melebihi pengalaman historis buku dan mobilitas, televisi telah menjadi sumber umum dari sosialisasi dan informasi sehari-hari terutama dalam bentuk hiburan dari populasi yang sangat heterogen. Pola berulang dari pesan-pesan dan gambaran televisi yang diporduksi secara massa membentuk kecenderungan akan lingkungan simbolis yang umum dan menjebak dalam hiperrealitas.

A.      Latar Belakang Teori
George Gerbner adalah  yang pertama kali menggagas teori kultivasi (cultivation theory). Ide Gerbner bersamaan rekan-rekannya di Annenberg School of Communication di Universitas  Pansylvania tahun 1969 itu dituangkan dalam sebuah artikel berjudul  the televition World of Violence. Artikel tersebut merupakan tulisan dalam buku bertajuk Mass Media and Violence yang disunting D. Lange, R. baker dan S. Ball (eds).
Awalnya, Gerbner melakukan penelitian tentang “Indikator Budaya” dipertengahan tahun 60-an, untuk mempelajari  pengaruh menonton televisi. Gerbner ingin mengetahui dunia nyata seperti apa yang dibayangkan, dipersepsikan oleh penonton televisi itu? Itu juga bias dikatakan bahwa penelitian kultivasi yang dilakukannya lebih menekankan pada “dampak” (Nurudin, 2004:157). Menurut Wood (2000:245) kata ‘cultivation’ sendiri merujuk pada proses kumulatif di mana televisi menanamkan suatu keyakinan tentang realitas sosial kepada khalayaknya.
Teori kultivasi muncul dalam situasi ketika terjadi perdebatan antara kelompok ilmuwan komunikasi yang meyakini efek sangat kuat media massa (powerfull effects model) dengan kelompok yang mempercayai keterbatasan efek media (limited effects model), dan juga perdebatan antara  kelompok yang menganggap efek media massa bersifat tidak langsung atau kumulatif. Teori kultivasi muncul untuk meneguhkan keyakinan orang, bahwa efek media massa lebih bersifat kumulatif dan lebih berdampak pada tataran social-budaya ketimbang individual.
Menurut Signorielli dan Morgan (1990 dalam Griffin, 2004) analisis kultivasi merupakan tahap lanjutan dari paradigm penelitian tentang efek media, yang sebelumnya dilakukan oleh George Gerbner yaitu ‘cultural indicator’ yang menyelidiki proses institusional dalam produksi isi media, image (kesan) isi media, dan hubungan antara terpaan pesan televisi dengan keyakinan dan perilaku khalayak.
Teori kultivasi ini di awal perkembangannya lebih memfokuskan kajiannya pada studi televisi dan audience, khususnya pada tema-tema kekerasan di televisi. Tetapi dalam perkembangannya, ia juga bias digunakan untuk kajian di luar tema kekerasan. Misalnya, seorang mahasiswa Amerika di sebuah unversitas pernah mengadakan pengamatan tentang para pecandu opera sabun (heavy soap opera). Mereka, lebih memungkinkan melakukan affairs (menyeleweng), bercerai dan menggugurkan kandungan dari pada mereka yang bukan termasuk kecanduan opera sabun (Dominick, 1990).
Gerbner bersama beberapa rekannya kemudian melanjutkan penelitian media massa tersebut dengn memfokuskan pada dampak media massa dalam kehidupan sehari-hari melalui Cultivation Analysis. Dari analisis tersebut diperoleh berbagai temuan yang menarik dan orisional yang kemudian banyak mengubah keyakinan orang tentang relasi antara televisi dan khalayaknya berikut berbagai efek yang menyertainya. Karena konteks penelitian ini dilakukan dalam kaitan merebaknya acara kekerasan di televisi dan meningkatnya angka kejahatan di masyarakat, maka temuan penelitian ini lebih terkait efek kekerasan di media televisi terhadap persepsi khalayaknya tentang dunia tempat mereka tinggal. Salah satu temuan terpenting adalah bahwa penonton televisi dalam kategori berat (heavy viewer) mengembangkan keyakinan yang berlebihan tentang dunia sebagai tempat yang berbahaya dan menakutkan. Sementara kekerasan yang  mereka saksikan di televisi menanamkan ketakutan sosial (social paranoia) yang membangkitkan pandangan bahwa lingkungan mereka tidak aman dan tidak ada orang yang dapat dipercaya. Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu. Media pun kemudian memelihara dan menyebarkan sikap dan nilai tersebut antar anggota masyarakat, kemudian mengikatnya bersama-sama pula. Media mempengaruhi penonton dan masing-masing penonton itu meyakini. Jadi, para pecandu televisi itu akan punya kecenderungan sikap sama satu sama lain.


B.      Penemu Teori Kultivasi (Cultivation Theory)

George Gerbner, dilahirkan di Hungary, kemudian pindah ke Amerika Serikat tahun 1939, menerima B.A nya. dari Universitas California dan nya M.S. dan Ph.D. dari Universitas California Selatan.

Sebelum bergabung di Universitas Pennsylvania, ia mengajar dan menjadi ahli di berbagi universitas diantaranya adalah : di Institut Riset Komunikasi, Universitas Illinois; Universitas California Selatan; El Camino Perguruan tinggi, Torrance, Cal.; dan Yohanes Muir Perguruan tinggi, Pasadena, Cal. Nya U.S.  Gerbner juga bergabung untuk melakukan riset-riset dan juga bergabung dengan badan-badan atau komisi-kominsi diantaranya adalah riset internasional yang didukung oleh lembaga Ilmu pengetahuan nasional, Institut Kesehatan Mental nasional, Riset internasional dan Pertukaran (IREX), Komisi pengawas Presiden atas Penyebab Dan Pencegahan terhadap kekerasan, Ahli badan penasehat Umum Ilmiah atas Televisi dan Perilaku Sosial, Serikat sekerja Para aktor Layar. Komisi pengawas Hak Sipil, lembaga Robert Kayu Johnson , dan organisasi lainnya.
George Gerbner adalah Profesor Dan Dekan Annenberg School for Communication, Universitas Pennsylvania dari 1964 sampai 1989. Ia kemudian menjadi suatu peneliti dan guru yang mandiri, dan dia mengunjungi Tokoh-tokoh dan Profesor di banyak negara. diantara yang dia kunjungi adalah: dosen di Universitas Athens, Yunani; Profesor Universitas Amerika ,Washington, D.C., ;Profesor Universitas Budapest, Hungary; Profesor Universitas Salesian Italia; dll.
Selain disebutkan seperti diatas George Gerbner juga aktif sebagai editor eksekutif Jurnal Komunikasi yang triwulanan dan editorial dewan Encyclopedia Komunikasi internasional.
Jurnal, Buku, Serta Analisis dari George Gerbner  Sampai sekarang sudah bayak sekali jurnal dan buku yang sudah dibuat oleh Gerbner, judul jurnal dan buku dari Gerbner yang terkenal diantaranya adalah :
Mass Media Policies in Changing Cultures. A Cross-Cultural Study.  Letter to the Communication Initiative Violence Profile No. 11.  Culture Wars and the Liberating Alternative. What Conglomerate Media Control Means for America and the World The Global Media Debate Violence and Terror in the Media International Encyclopedia of Communications.
World Communications: Communications in the Twenty-First Century Mass Media Policies in Changing Cultures. Communications Technology and Social Policy.
Analisis Kultivasi  dll Dewasa ini Gerbner juga tampak aktif dalam gerakan media literacy yang bertujuan untuk melakukan penyadaran dan pemberdayaan khalayak media agar tidak dirugikan dengan kehadiran media industri. Yang paling terkenal dari karya Gerbner adalah analisisnya tentang Kultivasi. Analisis ini menganggap bahwa Televisi membuat suatu pandangan dunia, walaupun tidak akurat tetapi kebanyakan orang mempercayainya. Gerbner meneliti televisi karena dia menggap televisi berbeda dengan media yang lain karena memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri.
C.      Definisi Teori
Teori Kultivasi (Cultivation Theory) merupakan salah satu teori yang mencoba menjelaskan keterkaitan antara media komunikasi (dalam hal ini televisi) dengan tindak kekerasan. Teori ini  dikemukakan oleh George Gerbner, mantan Dekan dari Fakultas (Sekolah Tinggi) Komunikasi Annenberg Universitas Pennsylvania,yang juga pendiri Cultural Environment Movement, berdasarkan penelitiannya terhadap perilaku penonton televisi  yang dikaitkan dengan materi berbagai program   televisi yang ada di Amerika Serikat.
D.      Esensi teori
Teori kultivasi memiliki beberapa asumsi pokok (Wood, 2004:249), yakni :
a.       Televisi merupakan media yang unik. Televisi membawa pesan visual dan audio sekaligus, sehingga lebih impresif. Aspek unik lainnya, televisi bersifat Pervasive, menyebar dan hampir dimiliki seluruh keluarga. Sebagai contoh di Amerika Serikat, pada tahun 1950, hanya 9% keluarga yang memiliki pesawat televisi, tetapi pada tahun 1991 jumlahnya telah melonjak menjadi 98.3%. dari jumlah itu, lebih dari 2/3-nya memiliki lebih dari satu pesawat. Pada tahun 2001, lebih dari 99% keluarga Amerika memiliki pesawat televisi. Televisi juga bersifatAssesible, yakni dapat diakses tanpa memerlukan kemampuan literasi atau keahlian lain). Selain itu, televisi bersifat coherent, karena mempersentasikan pesan dengan dasar yang sama tentang masyarakat melintasi program dan waktu.
b.      Televisi membentuk budaya mainstream. Kita tak bisa menyangkal, tren budaya di mana pun selalu disebarkan melalui televisi. Orang bergaul, berpakaian, atau memilih selera makan kini dibentuk oleh televisi. Budaya global, yang berlaku di Negara mana pun, sejatinya berasal dari isi siaran televisi. Gerbner dan kawan-kawan memperkenalkan faktor-faktor mainstreaming dan resonance (Gerbner, Gross, Morgan dan Signorielli, 1980 dalam Griffin, 2004). Mainstreaming diartikan sebagai kemampuan memantapkan dan menyeragamkan berbagai pandangan di masyarakat tentang dunia di sekitar mereka (Tv Stabilize and homogenize views within a society). Dalam proses ini televisi pertama kali akan mengaburkan (bluring), kemudian membaurkan (blending) dan melenturkan (bending) perbedaan realitas yang beragam menjadi pandangan mainstream tersebut. Sedangkan resonance mengimplikasikan pengaruh pesan media dalam persepsi realita dikuatkan ketika apa yang dilihat orang di televisi adalah apa yang mereka lihat dalam kehidupan nyata.
c.       Televisi menanamkan asumsi tentang hidup secara luas, ketimbang memberikan opini dan sikap yang lebih spesifik. Televisi memang bicara banyak, tetapi menghindari detail. Televisi lebih mengikuti tren ketimbang terfokus pada sebuah isu yang sebetulnya lebih relevan untuk disiarkan.
d.      Semakin banyak seseorang menghabiskan waktu untuk menonton televisi, semakin kuat kecenderungan orang tersebut menyamakan realitas televisi dengan realitas sosial. Dunia nyata (real world) di sekitar penonton dipersamakan dengan dunia rekaan yang disajikan media tersebut (symbolic world). Dengan kata lain, penonton mempersepsi apapun yang disajikan televisi sebagai kenyataan sebenarnya. Namun teori ini tidak menggeneralisasi pengaruh tersebut berlaku untuk semua penonton, melainkan lebih cenderung pada penonton dalam kategori heavy viewer (penonton berat). Hasil pengamatan dan pengumpulan data yang dilakukan oleh Gerbner dan kawan-kawan bahkan kemudian menyatakan bahwa heavy viewer mempersepsi dunia ini sebagai tempat yang lebih kejam dan menakutkan (the mean and scray world) ketimbang kenyataan sebenarnya. Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai “the mean and world syndrome” (sindrom dunia kejam) yang merupakan sebentuk keyakinan bahwa dunia sebuah tempat yang berbahaya, sebuah tempat di mana sulit ditemukan orang yang dapat dipercaya, sebuah tempat di mana banyak orang di sekeliling kita yang dapat membahayakan diri kita sendiri. Untuk itu harus berhati-hati menjaga diri. Pembedaan dan pembandingan antara heavy dan light viewer di sini dipengaruhi pula oleh latar belakang demografis di antara mereka.
e.      Penonton ringan (light viewers) cenderung menggunakan jenis media dan sumber informasi yang lebih bervariasi (baik komunikasi bermedia maupun sumber personal), sementara penonton berat (heavy viewers) cenderung mengandalkan televisi sebagai sumber informasi mereka.
f.        Perkembangan teknologi baru memrpekuat pengaruh televisi.
Asumsi terakhir menyatakan bahwa pembangunan teknologi baru memperkuat pengaruh televisi. Asumsi ini diajukan Gerbner pada tahun 1990 setelah menyaksikan perkembangan teknologi komunikasi yang luar biasa. Asumsi ini mengandung keyakinan bahwa teknologi pendukung tidak akan mengurangi dampak televisi sebagai sebuah media, malahan pada kenyataannya akan meneguhkan dan memperkuat.
Gerbner menandaskan, media massa khususnya televisi diyakini memiliki pengaruh yang besar atas sikap dan perilaku penontonnya (behavior effect). Pengaruh tersebut tidak muncul seketika melainkan bersifat kumulatif dan tidak langsung. Inilah yang membedakan teori ini dengan The Hypodermic Needle Theory, atau sering juga disebut The Magic Bullet Theory, Agenda Setting Theory, Spiral Of Silence Theory. Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa pengaruh yang muncul pada diri penonton merupalan tahap lanjut setelah media itu terebih dahulu mengubah dan membentuk keyakinan-keyakinan terrentu pada diri mereka melalui berbagai acara yang ditayangkan. Satu hal yang perlu dicermati adalah bahwa teori ini lebih cenderung berbicara pengaruh televisi pada tingkat komunitas atau masyarakat secara keseluruhan dan bukan pada tingkat individual.
Secara implisit teori ini juga berpendapat bahwa pemirsa televisi  bersifat heterogen dan terdiri dari individu-individu yang pasif yang tidak berinteraksi satu sama lain. Namun mereka memiliki pandangan yang sama terhadap realitas yang diciptakan media tersebut.
Di antara berbagai teori dampak media, cultivation analysis merupakan teori yang menonjol. Gerbner menyatakan bahwa televisi sebagai salah satu media modern, telah memperoleh tempat sedemikian rupa dan sedemikian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga mendominasi “lingkungan simbolik” kita dengan cara menggantikan pesannya tentang realitas bagi pengalaman pribadi dan sarana dunia lainnya.
Teori kultivasi melihat media massa sebagai agenda sosialisasi, dan menemukan bahwa penonton televisi dapat mempercayai apa yang ditampilkan oleh televisi berdasarkan seberapa banyak mereka menontonnya.
Untuk menunjukan bahwa televisi sebagai media yang mempengaruhi pandangan kita terhadap realitas sosial, para peneliti cultivation analysis bergantung kepada empat tahap proses :
1.    Message system analysis yang menganalisis isi program televisi.
2.    Formulation of question about viewers’ sosial realities yaitu pertanyaan yang berkaitan dengan seputar realitas sosial penonton televisi.
3.    Survey the audience yaitu menanyakan kepada mereka seputar apa yang mereka konsumsi dari media, dan
4.    Membandingkan realitas sosial antara penonton berat dan orang yang jarang menonton televisi.
Keempat tahap ini dapat disederhanakan menjadi dua jenis analisis :
1.    Analisis isi (content analysis), yang, mengidentifikasi dan menentukan tema-tema utama yang disajikan oleh televisi.
2.    Analisis khalayak (audience research), yang mencoba melihat pengaruh tema-tema tersebut pada penonton.
Bukti utama asumsi cultivation analysis diperkuat oleh studi analisis isi pesan televisi di Amerika. Analisis itu dilakukan selama beberapa tahun dan menunjukan distorsi realitas yang konsisten dalam hubungannya dengan keluarga, pekerjaan dan peran, usia lanjut, mati dan kematian, pendidikan, kekerasan dan kejahatan. Isu ini memberikan pelajaran tentang hal-hal yang diharapkan dari kehidupan bukanlah pesan yang membesarkan hati, khususnya bagi si miskin, kaum wanita dan minoritas rasial, (Mc Quail, 1987:254).
E.       Asumsi Analisis Kultivasi
Dalam mengemukakan posisi bahwa realitas yang dimediasi menyebabkan konsumen memperkuat realitas sosial mereka, Analisis kultivasi membuat beberapa asumsi. Karena teori ini dari dulu hingga kini merupakan teori yang didasarkan pada televisi, ketiga asumsi ini menyatakan hubungan antara media dan budaya :
1.       Televisi, secara esensi dan fundamental, berbeda dengan bentuk-bentuk media massa lainnya.
2.       Televisi membentuk cara berpikir dan membuat kaitan dari masyarakat kita.
3.       Pengaruh dari televisi terbatas.
Asumsi yang pertama dari analisis kultivasi menggarisbawahi keunikan dari televisi. Televisi berada di dalam lebih dari 98 persen rumah di Amerika Serikat. Televisi tidak membutuhkan kemampuan membaca, sebagaimana dengan media cetak. Tidak seperti film, televisi pada dasarnya gratis (selain biaya yang dikeluarkan pertama kali untuk pesawat televisi dan biaya iklan yang ditambahkan para produk-produk yang kita beli). Tidak seperti radio, televisi mengkombinasikan gambar dan suara. Televisi tidak membutuhkan mobilitas, sebagaimana pergi ke tempat ibadah misalnya, atau pergi ke bioskop atau teater. Televisi adalah satu-satunya medium yang pernah diciptakan yang tidak memiliki batasan usia, maksudnya, orang sapat menggunakannya pada tahun-tahun awal dan akhir dari kehidupan mereka, dan juga tahun-tahun di antaranya.
Oleh karena televisi mudah diakses dan tersedia bagi siapa saja, televisi merupakan “senjata budaya utama” dari budaya kita (Gerbner, Gross, Jackson-Beeck,Jeffries-Fox, dan Signorielli, 1978). Televisi dapat menampilkan bersama dua kelompok yang berbeda yang menunjukkan persamaan mereka. Misalnya, pada masa serangan awal di Irak, televisi mentransmisikan siaran langsung dari Baghdad. Mereka yang mendukung pengeboman menyatakan pentingnya menyerang target-target militer kunci, sementara mereka yang menentang perang ini menunjuk banyaknya perang sipil. Televisilan yang memungkinkan kedua kubu ini untuk menunjukkan kedua sisi gambaran perang yang berbeda. Dengan kata lain, televisi merupakan pencerita dari yang utama  dan memliki kemampuan untuk mengumpulkan kelompok-kelompok yang berbeda. Selain itu, siapa yang dapat meragukan mengenai peranan yang telah dimainkan oleh televisi dalam menceritakan kisah negara ini mengenai  tragedi 11 September 2001?
Asumsi yang kedua berkaitan dengan dampak dari televisi. Gerbner dan Gross (1972) menyatakan bahwa “ substansi dari kesadaran yang dikultivasi oleh TV tidak merupakan sikap dan opini yang lebih spesifik dibandingkan asumsi-asumsi yang lebih mendasar mengenai fakta-fakta kehidupan dan standar-standar  penilaian yang mendasari penarikan kesimpulan” (hal 175). Maksudnya, televisi tidak lebih berusaha untuk memengaruhi kita (televisi tidak berusaha untuk meyakinkan  Joyce Jensen bahwa jalan merupakan tempat yang tidak aman) melainkan melukiskan gambar yang lebih kurang meyakinkan mengenai seperti apa dunia sebenarnya. Gerbner (1998) mengamati bahwa televisimencapai orang, rata-rata, lebih dari tujuh jam sehari. Selama kurun waktu ini, televisi menawarkan “sistem penceritaan kisah yang tterpusat”.
Berdasarkan asumsi ini, analisis kultivasi memberikan cara pemikiran alternatif mengenai kekerasan dalam TV.  Analisis kultivasi tidak menyatakan mengenai apa yang akan kita lakukan berdasarkan menonton televisi yang penuh dengan kekerasan, melainkan teori ini mengasumsikan bahwa menonton televisi bahwa menonton televisi yang penuh dengan kekerasan akan membuat kita merasa takut karena televisi menanamkan di dalam diri kita gambaran dunia yang kejam dan berbahaya.
Asumsi ketiga dari analisis kultivasi menyatakan bahwa dampak dari televisi terbatas, hal ini mungkin terdengar aneh, apalagi melihat fakta bahwa televisi tersebar sangat luas. Tetapi,  kontribusi terhadap budaya yang dapat diamati, dikur, dan independen relatif kecil. Hal ini mungkin tampak seperti pernyataan ulang dari pemikiran dampak minimal, tetapi, Gerbner menggunakan analogi zaman es untuk membedakan analisi kultivasi dari pendekatan dampak terbatas. Analogi zaman es (ice age analogy) menyatakan bahwa “sebagaimana pergeseran temperatur rata-rata sebanyak beberapa derajat dapat mengakibatkan zaman es, atau hasil akhir pemilihan umum dapat ditentukan dengan batas yang tipis, demikian pula dampak yang relatif kecil namun tersebar luas dapat membuat perbedaan besar. “ukuran” dari “dampak” jauh lebih tidak penting dibandingkan dari arah kontribusinya yang berkelanjutan” (Gerbner, Gross, Mirga, dan Signorielli, 1980). Argumen ini tidak menyatakan bahwa dampak dari televisi tidak memiliki konsekuensi, sebaliknya, walaupun dampak televisi terhadap budaya yang dapat diukur, diamati, dan independen pada suatu titik waktu tertentu mungkin terlihat kecil, dampak ini tetap ada dan signifikan. Lebih jauh lagi, Gerbner dan koleganya menyatakan bahwa ini bukan merupakan kasus di mana menonton tayangan program televisi tertentu akan mnyebabkan suatu perilaku tertentu .
F.       Proses dan Produk Analisis Kultivasi
Untuk menunjukkan secara empiris keyakinan mereka bahwa televisi memiliki dampak kausal terhadap budaya, para peneliti Kultivasi mengembangkan proses empat tahap yaitu :
1.       Analisis sistem pesan, terdiri atas analisis isi mendetail dari pemrograman televisi untuk menunjukkan presentasi gambar, tema, nilai, dan penggambaran yang paling sering berulang dan konsisten.
2.       Formulasi pertanyaan mengenai realitas sosial penonton, melibatkan penyusunan pertanyaan mengenai pemahaman orang akan kehidupan sehari-sehari mereka.
3.       Menyurvey khalayak, mensyaratkan bahwa pertanyaan-pertanyaan dari tahap kedua diberikan kepada anggota khalayak dan bahwa para peneliti menanyakan para penonton ini mengenai level konsumsi televisi mereka.
4.       Membandingkan realitas sosial dari penonton kelas berat dan kelas ringan. Menurut Gerbner terdapat sebuah perbedaan antara penonton kelas berat dengan penonton kelas ringan dan persepsi mereka mengenai kekerasan (diferensial kultivasi). Penonton kelas berat adalah mereka yang paling sering menonton dari sekelompok sampel orang yang diukur, sementara penonton kelas ringan adalah mereka yang paling sedikit menonton.
Pengarusutamaan Dan Resonansi
Proses kultivasi terjadi dalam dua cara. Pertama adalah pengarusutamaan (mainstreaming), yaitu terjadi ketika terutama bagi penonton kelas berat, simbol-simbol televisi mendominasi sumber informasi lainnya dan ide mengenai dunia. Karena menonton televisi terlalu banyak, konstruksi realitas sosial seseorang bergera ke arah mainstream. Para penonton kelas berat cenderung untuk percaya akan realitas mainstream bahwa dunia lebih berbahaya dari sebenarnya dan bahwa semua politikus itu korup, dan bahwa kejahatan remaja sedang berada pada tingkat yang tertinggi.
Cara kedua kultivasi bekerja adalah melalui resonansi. Resonansi (resonance) terjadi ketika hal-hal di dalam televisi, dalam kenyataannya, kongruen dengan realitas keseharian para penonton. Dengan kata lain, realitas eksternal objektif dari penonton beresonansi dengan realitas televisi. Beberapa orang yang tinggal di pusat kota, misalnya mungkin melihat dunia yang penuh kekerasan di televisi beresonansi di lingkungan perumahan mereka yang mulai kacau.
Kultivasi, naik sebagai pengarusutamaan maupun resonansi, menghasilkan dampak pada dua level yaitu :
Dampak tingkat pertama (first order effect), merujuk pada pembelajaran mengenai fakta-fakta, misalnya seperti berapa banyak pria bekerja yang terlibat di dalam proses penegakan hukum atau bagaimana proporsi pernikahan yang berakhir denga perceraian.
Dampak tingkat dua (second order effect), melibatkan hipotesis mengenai isu dan asumsi yang lebih umum “ yang dibuat oleh orang mengenai lingkungan mereka (Gerbner, Gross, Morgan, dan Signorielli, 1986).
Indeks dunia yang kejam
Hasil dari analisis kultivasi adalah indeks dunia yang kejam -  mean world index (Gerbner, Gross, Morgan, dan Signorielli, 1980) yang terdiri atas tiga pernyataan :
1.       Kebanyakan orang berhati-hati untuk diri mereka sendiri
2.       Anda tidak dapat terlalu berhati-hati dalam berurusan dengan orang
3.       Kebanyakan orang akan mengambil keuntungan dari anda jika mereka memiliki kesempatan.
Analisis kultivasi memprediksi bahwa persetujuan dengan pernyataan-pernytaan ini dari penonton kelas ringan dan berat akan berbeda, dengan penonton kelas berat memandang dunia sebagai dunia yang lebih kejam dibandingkan penonton kelas ringan. Teori ini juga memprediksi bahwa jumlah televisi adalah penduga jawaban orang yang terbaik, mengalahkan jenis pembedaan di antara orang yang lain. Misalnya pendapatan danpendidikan.
Gerbner dan koleganya (1980) menunjukkan efektifitas indeks dunia yang kejam mereka dalam sebuah kajian yang menunjukkan bahwa penonton kelas berat cenderung untuk melihat dunia sebagai tempat yang kejam dibandingkan penonton kelas ringan. Para penonton yang memiliki latar belakang pendidikan lebih tinggi dan lebih baik dalam hal finansial secara umum memandang dunia tidak lebih kejam dibandingkan dengan mereka yang tingkat pendidikan dan penghasilannya lebih rendah. Tetapi dalam menguji kekuatan televisi, para peneliti menunjukkan bahwa penonton kelas berat dari kelompok dengan tingkat pendidikan tinggi dan keadaan finansial yang lebih baik melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya sebagaimana halnya dengan orang-orang berpendidikan dan berpenghasilan rendah. Dengan kata lain, para penonton kelas berat memegang persepsi mainstream mengenai dunia sebagai tempat yang kejam, tanpa memedulikan fakktor-faktor seperti pendidikan dan pendapatan.para peneliti kultivasi melihat hal ini sebagai bukti bahwa isi televisi merupakan faktor penyusun realitas sosial bagi penonton kelas berat, tanpa memedulikan perbedaan individual atau sosial.
F.  Teori Kultivasi oleh George Gerbner
1. Pandangan Analisis Kultivasi
Menurut teori kultivasi, media, khususnya televisi, merupakan sarana utama proses belajar anda tentang masyarakat dan kultur anda. Teori kultivasi berpendapat bahwa pecandu berat televisi membentuk suatu citra realitas yang tidak konsisten dengan kenyataan. Sebagai contoh, seorang pecandu berat televisi menganggap bahwa kemungkinan seseorang menjadi korban kejahatan adalah 10 banding 1, Padahal dalam kenyataannya nilainya tidak setinggi itu. Namun, tidak semua pecandu berat televisi terkultivasi secara sama.
2. Kultivasi dan Pemirsa Berat Televisi
Rata-rata pemirsa menonton televisi empat jam sehari, pemirsa “berat” menonton lebih lama lagi. Gerbner menyatakan, terhadap pemirsa “berat”, televisi memonopoli dan memasukkan sumber-sumber informasi, gagasan, dan kesadaran lain. Dampak semua keterbukaan ke pesan-pesan yang sama menghasilkan apa yang oleh para peneliti disebut kultivasi, atau pengajaran pandangan bersama tentang dunia sekitar, peran-peran bersama, dan nilai-nilai bersama. Jika teori kultivasi benar, maka televisi mungkin mempunyai dampak yang penting tetapi tidak tampak di masyarakat. Misalnya, teori kultivasi menyatakan bahwa karena terlalu sering menonton membuat orang merasa dunia ini adalah tempat yang tidak aman.  Berdasarkan riset awal yang mendukung teori kultivasi, menanggapi pertanyaan seperti “dapatkah orang dipercaya?”, pemirsa “berat” televisi mempunyai kemungkinan lebih besar daripada pemirsa “ringan” untuk memilih jawaban “seharusnya tidak”. Respons terhadap pertanyaan seperti itu mengisyaratkan pemirsa ”berat” televisi mendapatkan perasaan risiko dan ketidakamanan yang meningkat dari televisi. Televisi mungkin menyebabkan pemirsa ”berat” mempunyai persepsi “dunia yang kejam”. 
3. Media (televisi) sebagai Penyebar Kultivasi
Kekejaman di media sangat sulit untuk didefinisikan dan diukur.  George Gerbner yang mengikuti `violence` atau kekejaman yang disiarkan  dalam program televisi, mendefinisikan tindakan kejam atau `violence act` (atau ancaman) dari melukai atau membunuh seseorang, tergantung dari metode yang digunakan secara sendiri-sendiri atau dari konteks keadaan sekitar tayangan tersebut.  Bertalian ragam penyajiannya, media massa khususnya audio visual, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pengelolanya agar mencapai sasarannya, antara lain dengan menjawab pertanyaan: Who (siapa); Says what (mengatakan apa); In which channel (dengan melalui saluran apa); To whom (ditujukan kepada siapa); With what effect (menimbulkan efek apa). Tetapi kenyataannya tayangan tentang kekerasan dan kesadisan baik dalam rumah tangga maupun dalam kehidupan masyarakat menjadi salah satu primadona tayangan yang sering disiarkan di media televisi tanpa mempertimbangkan kepada siapa ditujukan dan bagaimana efek yang akan ditimbulkan. Contohnya adalah efek jangka panjang yang ditimbulkan televisi seperti yang dijelaskan dalam Cultivation Analisist.
4. Analisis terhadap Televisi
Tujuan awal dari analisis oleh George Gerbner ini adalah menghasilkan suatu indeks tahunan pada minggu-minggu tertentu pada tayangan televisi yang menampilkan adegan kekerasan. Kultivasi sendiri adalah hasil dari menonton tv secara umum, hal itu bukan merupakan gejala yang universal kecuali pengaruh mainstreamingnya.
a.       Hasil penelitian terhadap proyek indikator kultural menurut Gerbner :
·         Televisi secara mendasar berbeda dengan media massa yang lain.
·         Medianya adalah ”central cultural arm” pada masyarakat Amerika.
·         Fungsi kultural televisi adalah menstabilkan pola-pola sosial, menanamkan perlawanan pada perubahan dan merupakan media sosialisasi dan enkulturasi
·         Substansi dari penanaman nilai kesadaran oleh televisi adalah tidak banyak pendapat seperti dasar asumsi tentang fakta-fakta kehidupan.
·         Penampakan nilai-nilai kebudayaan seperti kerukunan relatif kecil.
b.      Hasil penelitian Gerbner tentang televisi:
·         Pengaburan perbedaan tradisional dari pandangan penonton tentang dunia mereka
·         Pencampuran realita kedalam aliran kebudayaan televisi.
·         Pembelokan aliran ketertarikan secara institusional pada televisi
c.       Kelebihan Analisis kultivasi:
·         Mengkombinasikan teori tingkat makro dan mikro
·         Menyediakan penjelasan lengkap tentang peran unik televisi
·         Menggunakan studi empiris untuk mempelajari kemanusiaan
·         Efek penegasan ulang sebagai sesuatu yang melebihi perubahan tingkah laku yang diamati
·         Menggunakan keragaman efek isu
·         Menyediakan dasar untuk perubahan social
  d.          Kekurangan analisis kultivasi :
·         Sulit diaplikasikan pada media yang tidak menggunakan televisi
·         Memfokuskan pada penonton berat televisi
·         Mengasumsikan bahwa televisi itu sejenis
·         Banyak menimbulkan masalah
  e. Empat produk analisis kultivasi :
·         Meneliti penonton
·         Membandingkan realitas sosial penonton berat dengan ringan
·         Merumuskan pertanyaan tentang realitas sosial penonton 
·         Menyebut analisis sistem perpesanan pada televisi
5. Perbedaan Cultivation Analisist dengan Bullet Theory atau Hypodermic theory
Pada dasarnya Cultivation Analisist yang dikembangkan Gerbner dikenalkannya pada kelompok repowerfull media, teori ini ada kemiripan dengan pandangan awal Bullet Theory atau Hypodermic needle theory ( teori jarum hipodermik)  Perbedaan mendasar antara Cultivation Analisist yang dikembangkan Gerbner dengan Bullet Theory atau Hypodermic needle theory adalah : Jika Cultivation Analisist mampu membangun suatu pandangan dan mainstreaming dalam jangka panjang, artinya efek dari penayangan gambaran realita yang terus dan sering ditayangkan di media televisi dapat menimbulkan Efek dalam jangka waktu yang relatif lebih panjang. Misalnya saat media sering menampilkan berita kejahatan seksual di televisi maka dalam jangka waktu yang relatif lama orang akan berasumsi bahwa dunia sekarang ini tidak aman, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Jika Bullet Theory atau Hypodermic needle theory lebih pada pengamatan pengaruh media dalam jangka pendek. Berdasarkan pengamatan spekulatif dan belum berdasarkan penelitian empiris seperti penelitian yang dilakukan oleh Lazarsfeld dkk, mengenai kecenderungan dalam masyarakat ketika terjadi propaganda menunjukkan adanya pengaruh yang kuat dari media. Menurut Lazarsfeld jika khalayak diterpa peluru komunikasi mereka tidak jatuh terjerembab. Kadang-kadang peluru itu tidak menembus, dan sering juga efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak. 
6. Paradigma Penelitian yang dilakukakan George Gerbner
Jika dilihat dari apa dan bagaimana penelitian yang dikembangkan Gerbner maka penelitian yang dikembangkan Gerbner masuk dalam paradigma postmodernisme. Dalam paradigma ini, ilmu yang didapat, berasal dari masyarakat yang diteliti dan peneliti tidak boleh mengubah apapun dari manusia yang diteliti. Hal itu dikarenakan manusia yang diteliti tidak ditempatkan sebagai obyek penelitian tetapi ditempatkan sebagai subyek penelitian yang unik. Dan karena manusia tidak ditempatkan sebagai obyek maka peneliti hanya menggunakan cara berfikir manusia yang diteliti. Pada paradigma penelitian postmodernisme kebanyakan tidak memperhatikan teori-teori yang besar yang ada. Salah satu contoh dari paradigma postmodernisme dapat dilihat dalam kajian cultural studies. Karakteristik pendekatan postmodernisme :
a.       Menolak semua ideologi dan sistem kepercayaan yang terorganisir termasuk semua teori social
b.      Sangat mempercayai intuisi, imajinasi, emosi.
c.       Kepercayaan bahwa hubungan kausalitas tidak dapat dipelajari karena kehidupan sangat kompleks dan mudah berubah.
d.      Pernyataan bahwa penelitian sosial tidak dapat mengungkapkan apa yang terjadi dalam dunia sosial dengan benar-benar tepat.
e.      Mendukung relativisme dimana interpretasi tidak terbatas, sehingga tidak satupun menjadi superior dari yang lain.
f.        Dorongan dari perbedaan, chaos dan kompleksitas berubah secara tetap.
g.       Penolakan mempelajari masa lalu dengan tempat lain yang berbeda karena yang relevan hanya sekarang dan di tempat yang dimahsud.
h.      Perasaan ketiadaan dan pesimisme percaya bahwa dunia ini tidak pernah berkembang.
Tetapi ada pertanyaan besar yang harus dijawab, yaitu Apakah Cultivation Analisist oleh Gerbner ini masuk dalam paradigma postmodernisne dikarenakan dia mengkaji televisi?.
Memang postmodernisme yang menjelaskan fenomena kontemporer, masyarakat informasi ( yang ditandai dengan masyarakat yang tidak memproduksi barang-barang secara massal seperti pada masyarakat pada era modern, ditandai dengan dominannya budaya Visual yang dalam cultivation analisis ditandai dengan dominannya Televisi. Televisi sendiri dewasa ini dapat membangun budaya konsumtif dan dominannya karakteristik hiburan yang dihasilkan media itu. Kajian dalam postmodernisme lebih banyak menelaah budaya dari masyarakat kapitalis sedangkan Gerbner masih dalam kajian media effect, yang tidak secara khusus mempersoalkan apa yang menjadi tema kajian kalangan postmodernisme.

Ringkasnya, Gerbner meringkas teori kultivasi dalam enam proposisi sebagai berikut:
  1. Televisi merupakan suatu media yang unik yang memerlukan pendekatan khusus untuk diteliti.
  2. Pesan-pesan televisi membentuk sebuah sistem yang koheren mainstrem dari budaya kita.
  3. Sistem-sistem isi pesan tersebut memberikan tanda-tanda untuk kultivasi.
  4. Analisis kultivasi memfokuskan pada sumbangan televisi terhadap waktu untuk berpikir dan bertindak dari golongan golongan sosial yang besar dan heterogen. 
  5. Teknologi baru seperti VCR memperluas daripada mengelakkan jangkauan pesan televisi
  6. Analisis kultivasi menfoluskan pada penstabilan yang meluas dan penyamaan akibat-akibat (gerbner, dalam Signorielli dan morgan, 1990:253)
DAFTAR PUSTAKA
Santoso, Edi & Setiansah, Mite. 2010.Teori Komunikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
West, Richard & Turner H. Lynn. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta. Salemba Humanika
http://wsmulyana.wordpress.com/2009/01/09/teori-kultivasi/
http://mydistra.blogspot.com/2009/01/kultivasi-gerbner.html


Konglomerasi Media
Bahaya Televisi

Thursday, May 19, 2016

Degradasi Moral dan Televisi



Degradasi Moral dan televisi

Mungkin banyak yang akan bertanya, apa hubungan antara degradasi moral dan televisi ? mari kita bahas satu persatu. 
Degradasi moral adalah penurunan tingkah laku manusia akibat tidak mengikuti hati nurani Karena kurangnya kesadaran diri terhadap kewajiban mutlak. Degradasi artinya menurun sedangkan moral adalah nilai-nilai positif. Memang sengaja tidak saya jabarkan satu persatu. Untuk mudah dalam membayangkan degradasi moral saya contohkan demikian. Seseorang saling memberikan salam dan tegur sapa  itu baik, tapi yang terjadi saat ini orang orang terlalu sibuk dengan gadget nya sampai tidak tahu ada yang datang atau menghampirinya. 
Guru itu harus dihargai dan dihormati, dengan bertutur kata yang baik, menjaga sopan santun ketika bertemu dengan beliau, yang banyak terjadi seorang siswa sma sederajat di kota besar  mengangap guru seperti teman sebaya, berperilaku seenaknya, tidak menghargai apa lagi menghormati beliau. Seorang siswa baiknya berpakain seragam rapi, baju di masukkan dan terlihat bersih dan terpelajar, yang terjadi jika tidak ada guru, baju dikeluarkan, ada yang memakai rok pendek, bak model, sengaja dipotong dll. Perilaku-perilaku yang jika dipandang secara nilai kesopanan, etika, nilai ketimuran tidak tepat.
Lalu apa hunungan nya dengan televisi? Apakah yang salah hanya televisi ? memang tidak semua salah televisi, karena degradasi moral itu banyak sekali faktor yang mendasari. Misal Faktor keluarga yang tidak mendidik anak secara benar, faktor lingkungan yang tidak mendukung, sekolah yang tidak baik, penggunaan teknologi yang tepat dan yang terakhir televisi. Kenapa televisi ? mari kita bahas.
TEORI KULTIVASI(GEORGE GERBNER) Teori Kultivasi merupakan bagian dari teori komunikasi yang membahas efek dari komunikasi massa, teori ini dikembangkan oleh George Gerbner. Teori Kultivasi ini muncul untuk meyakinkan orang bahwa efek media massa lebih bersifat kumulatif dan lebih berdampak pada tataran social budaya dari pada individual. 
Teori Kultivasi ini juga memberikan gambaran bahwa efek media massa tidak secara langsung menerpa khalayak. definisi: Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak pemirsa tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak pemirsa dengan televisi, mereka belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai (nilai sosial) serta adat dan tradisi nya. Menurut Miller (2005: 282), teori kultivasi tidak dikembangkan untuk mempelajari "efek yang ditargetkan dan spesifik (misalnya, bahwa menonton Superman akan mengarahkan anak-anak untuk mencoba terbang dengan melompat keluar jendela) melainkan dalam hal akumulasi dan dampak televisi secara menyeluruh, yaitu bagaimana masyarakat melihat dunia dimana mereka hidup ". Oleh karena itu disebut 'Analisis Budaya'. Gerbner, Gross, Morgan, & Signorielli (1986) berpendapat bahwa meskipun agama atau pendidikan sebelumnya telah berpengaruh besar pada tren sosial dan adat istiadat, namun sekarang ini, televisilah yang merupakan sumber gambaran yang paling luas dan paling berpengaruh dalam hidup. sehingga televisi merupakan gambaran dari lingkungan umum kehidupan masyarakat. 
Teori Kultivasi dalam bentuk yang paling dasar menunjukkan paparan bahwa sesungguhnya televisi dari waktu ke waktu, secara halus "memupuk" persepsi pemirsa tentang kehidupan realitas. Teori ini dapat memiliki dampak pada pemirsa TV, dan dampak tersebut akan berdampak pula pada seluruh budaya kita. Gerbner dan Gross (1976) mengatakan "televisi adalah media sosialisasi kebanyakan orang menjadi peran standar dan perilaku. Fungsinya adalah satu, enkulturasi". 
Televisi memang sudah sangat melekat dikehidupan kita sehari-hari. Dari televisilah kita belajar tentang kehidupan dan budaya. Tontonan seperti acara sinetron maupun reality show yang sering menunjukkan kekerasan, perselingkuhan, kriminal, dan lain sebagainya akan dianggap sebagai gambaran bahwa itulah yang sering terjadi di kehidupan realita. Padahal belum tentu semua yang terdapat pada tayangan itu adalah kejadian-kejadian yang sering terjadi dikehidupan kita. Karena jika ditelaah, semua yang terdapat pada reality show atau sinetron adalah hasil dari skenario belaka. Lebih jauh dalam Teori Kultivasi dijelaskan bahwa pada dasarnya ada 2 (dua) tipe penonton televisi yang mempunyai karakteristik saling bertentangan/bertolak belakang, yaitu (1) para pecandu/penonton fanatik (heavy viewers) adalah mereka yang menonton televisi lebih dari 4(empat) jam setiap harinya. Kelompok penonton ini sering juga disebut sebagai khalayak ‘the television type”, serta 2 (dua) adalah penonton biasa (light viewers), yaitu mereka yang menonton televisi 2 jam atau kurang dalam setiap harinya. Dan teori kultivasi ini berlaku terhadap para pecandu / penonton fanatik, karena mereka semua adalah orang-orang yang lebih cepat percaya dan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi itulah dunia senyatanya.
 Pada dasarnya, Teori Kultivasi pertama kali di kemukakan oleh George Gerbner bersama rekan-rekannya di Amenberg School of Communication di Pennsylvania pada tahun 1969, dalam sebuah artikel yang berjudul “the television of violence” yang berisikan bagaimana media massa khususnya televisi menampilkan adegan-adegan kekerasan di dalamnya. Teori kultivasi ini muncul dalam situasi pada saat terjadi perdebatan antara kelompok ilmuwan komunikasi yang meyakini bahwa efek sangat kuat dari media massa. Teori Kultivasi muncul untuk meyakinkan orang bahwa efek media massa lebih bersifat kumulatif dan lebih berdampak pada tataran social budaya ketimbang individual. 
Signorielli dan Morgan pada tahun 1990 mengemukakan bahwa analisis kultivasi merupakan tahapan lanjutan dari penelitian efek media yang sebelumnya dilakukan Gerbner yaitu “Cultural Indicator” yang menyelidiki Proses institusional dalam produksi isi media, image atau kesan isi media serta hubungan antara terpaan pesan televisi dengan keyakinan dan perilaku khalayak. 
Dalam penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Gerbner diketahui bahwa penonton Televisi dalam kategori berat mengembangkan keyakinan yang berlebihan mengenai dunia sebagai tempat yang berbahaya dan menakutkan. Sedangkan kekerasan yang mereka saksikan di Televisi menambah ketakutan sosial yang membangkitkan pandangan bahwa lingkungan mereka tidak aman dan tidak ada orang yang dapat dipercaya. KAJIAN TEORI KULTIVASI Teori Kultivasi menganalisis tayangan televisi telah menjadi teman keseharian oleh kebanyakan orang dalam keluarga di amerika serikat, karena Teori ini memprediksikan dan menjelaskan pembentukan persepsi, pemahaman, dan keyakinan jangka panjang tentang dunia ini sebagai hasil dari mengkonsumsi isi media. Gerbner (1999) mengemukakan bahwa “sebagian besar yang kita ketahui, atau yang kita pikir kita ketahui, adalah tidak pernah kita alami sendiri”. Banyak hal yang kita ketahui itu karena yang kita lihat dan kita dengar dari media. Teori Kultivasi terus mengalami evolisi bertahun-tahun lamanya, melalui serangkaian metode dan teori yang dilakukan ole h Gerbner dan rekan-rekannya.
 ASUMSI DASAR TEORI KULTIVASI Terdapat tiga asumsi dasar teori kultivasi yang dikemukakan oleh Gerbner yaitu : 1). Secara Esensial Dan Fundamental Televisi Berbeda Dengan Media Yang Lain. Asumsi ini menunjukkan bahwa spesifikasi keunikan dari Televisi yaitu kelebihan Televisi menjadikannya istimewa seperti televise tidak memerlukan sederetan huruf-huruf seperti halnya media cetak lainnya, televisi bersifat audio dan visual yang dapat dilihat gambar dan suaranya, Televisi tidak memerlukan Mobilitas atau memutar tayangan yang disenangi dan karena aksesibilitas dan avaibilitasnya untuk setiap orang membuat Televisi menjadi pusat kebudayaan masyarakat kita. 2). Televisi Membentuk Cara Kita Berfikir Dan Berhubungan. Asumsi ini masih berkaitan dengan pengaruh tayangan Televisi, pada dasarnya Televisi tidak membujuk kita untuk benar-benar meyakini apa yang kita lihat di Televisi, berdasarkan asumsi ini, Teori Kultivasi mensuplay alternative berfikir tentang tayangan kekerasan di Televisi. 3). Televisi Hanya Memberi Sedikit Dampak. Asumsi yang terakhir ini mungkin agak berbeda dengan asumsi dasar Teori Kultivasi, namun Gerbner memberiikan analogi ice age untuk memberi jarak antara teori kultivasi dan asumsi bahwa Televisi hanya memberikan sedikit efek atau dampak. Dalam analogi ice age menganggap bahwa Televisi tidak harus mempunyai dampak tunggal saja akan tetapi mempengaruhi penontonnya melalui dampak kecil yang tetap konstan. 

Anak-anak
"Kalau saja lihat anak-anak sekarang itu seharian bisa duduk di (depan) televisi, mau acara apapun itu mereka lihat. Kalau saja acaranya mendidik, itu tidak apa-apa. Namun faktanya 60 persen acara tidak mendidik. Mau jadi apa generasi bangsa ini. Dan fakta ini hampir merata dari kota sampai ke kampung,” kata mantan ASOPS TNI ini.
Selama ini dia mengakui bahwa aduan dari masyarakat terus membanjiri KPI terhadap konten-konten yang dianggap tidak pantas.
Televisi sebagai kebutuhan primer.
Tidak dapat dipungkiri, kemajuan jaman yang terjadi sekarang ini memberikan kemudahan serta mampu mendekatkan yang jauh. Di era informasi sekarang, televisi sepertinya telah menjadi kebutuhan hidup. Hampir disetiap rumah memiliki telivisi sebagai akses terhadap informasi utama mereka. Tidak hanya itu saja, televisi juga dijadikan sarana hiburan murah meriah bagi keluarga. Beragam program dan acara disuguhkan untuk memberikan informasi terbaru ataupun sekedar memberikan hiburan di waktu senggang. Walau kini telah ada internet, namun dominasi televisi sebagai sumber informasi dan hiburan yang murah meriah belum dapat tergantikan. Rasa-rasanya, masyarakat tidak mampu untuk hidup sehari saja tanpa televisi.
Komersialisasi yang tidak dibarengi dengan tanggung jawab moral.
Pada awal kemunculan televisi, masyarakat harus membayar untuk dapat menikmati siaran berita atau acara kesenian yang disiarkan oleh TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi kala itu. Pada masa itu, acara televisi pun dapat dihitung dengan jari. Namun walaupun sedikit, acara-acara yang disajikan berisikan nilai moral, sejarah maupun perjuangan yang positif. Saat ini, tidak kurang 15 stasiun televisi lokal dan nasional dapat kita nikmati. Tak kurang ratusan acara televisi dapat kita tonton nonstop 24 jam dan perlu lagi harus membayar iuran apapun. Kita hanya harus merelakan waktu menonton kita disela oleh iklan sebagai gantinya. Tak dapat dipungkiri, televisi kini telah menjadi lahan bisnis yang menguntungkan bagi mereka yang mempunyai modal besar.
Komersialisasi televisi saat ini sesungguhnya memberikan keuntungan yang besar bagi kita selaku penonton. Setiap stasiun televisi berlomba-lomba menyugukan tayangan terbaik mereka mulai dari berita, film hingga acara-acara hiburan. Tayangan-tayangan tersebut sejatinya sangat bagus bila dikemas secara bertanggung jawab dan mendidik. Namun sayangnya, persaingan bisnis yang makin ketat membuat para stasiun televisi berlomba-lomba mengejar target iklan serta mengesampingkan tanggung jawab moral. Banyak sekali tayangan dan tontonan yang kurang mendidik, mempertontonkan akhlak yang buruk serta hanya menampilkan gaya hidup hedonis yang siap meracuni para penontonnya terutama remaja dan pemuda.
Rendahnya standard pengawasan membuat beberapa tayangan televisi berkualitas sangat rendah.
Sebenarnya untuk membendung komersialisasi tayangan yang hanya menguntungkan pengusaha (pemilik stasiun televisi), di Indonesia telah ada lembaga khusus yang bertugas mengawasi tayangan maupun siaran televisi. Setidaknya ada 2 lembaga yang bertanggung jawab akan kualitas tayangan yang kita tonton yaitu Lembaga Sensor Indonesia (LSI) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Namun sampai saat ini, peran kedua lembaga tersebut kurang maksimal. Masih banyak tayangan-tayangan yang tak layak dan tidak mencerminkan budaya Indonesia sebagai negeri timur yang santun.
Belum adanya regulasi dan standard yang pasti akan mutu tayangan menjadi sebab banyaknya tayangan yang tidak layak justru malah tayang dan bahkan digemari oleh masyarakat. Sebagai contoh dalam hal berpakaian, seorang pelajar yang baik akan memasukkan bajunya kedalam celana atau rok serta bagi siswi mengenakan rok dibawah lutut. Namun kenyataannya, dalam berbagai tayangan dan hampir 100 persen -baik film maupun sinetron- nilai-nilai tersebut seperti diabaikan. Yang ada justru para siswa memakai pakaian tidak rapi, sementara siswinya berpakaian bak model yang mengenangkan rok mini dan pakaian ketat yang sangat tidak mencerminkan nilai-nilai seorang pelajar. Tayangan-tayangan yang tidak bermutu inilah yang secara sadar atau tidak dicontoh dan ditiru generasi muda -terutama pelajar- kita.
Memang tidak dapat dipungkiri, peran KPI dan LSI dalam membendung tayangan yang negatif sangat besar. Telah banyak tayangan yang diberikan teguran bahkan sampai dihentikan penayangannya oleh KPI. Namun yang sangat disayangkan, penghentian penayangan sering kali bukan karena inisiatif dari KPI sendiri namun karena banyaknya komplain dari masyarakat.
Peran Televisi dalam degradasi moral Penerus Bangsa.
Kebutuhan masyarakat akan televisi sebagai media hiburan yang murah, tidak didukung oleh regulasi yang jelas untuk menjaga kualitas tayangan televisi tersebut. Akibatnya, sebagian besar acara televisi pada jam utama (prime time) berisikan tanyakan yang tidak mendidik. Disadari atau tidak, tayangan ini telah merasuk dan membekas dalam ingatan para remaja. Dan tidak bisa dipungkiri, degradasi moral remaja yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari peran televisi. Tidak hanya itu, cara berpakaian, tingkah laku dan gaya hidup remaja saat ini telah berkiblat ke televisi sampai mereka tidak lagi memiliki jati diri.
Ketika para remaja mengalami krisis jati diri dan kepribadian, maka sangatlah mudah bagi mereka terombang-ambing mengikuti apapun yang mereka lihat dan denger tanpa adanya filter yang membendungnya. Mudah bagi mereka meniru cara berpakaian, gerakan, tutur kata bahkan tingkah laku idolanya di televisi. Tidak kah kita sedih melihat generasi penerus bangsa ini tidak memiliki kebanggaan sama sekali terhadap diri dan jati diri bangsanya?
Pemerintah dan Keluarga bertanggung jawab dalam memfilter tayangan di televisi.
Sudah saatnya kita semua sadar dan bertanggung jawab terdahap apa yang mereka dengar dan lihat. Pemerintah harus membuat peraturan yang tegas tentang tontonan di televisi. Tidak hanya itu saja, peran serta keluarga sangatlah penting. Jangan biarkan anak-anak kita menonton televisi sendirian tanpa ditemani oleh orang dewasa yang bertanggung jawab. Kesadaran akan pentingnya memfilter tayangan anak harus ditumbuhkan dalam keluarga agar tercipta iklim yang sehat bagi tumbuh kembang anak.
Mereka adalah cerminan masa depan bangsa.Mereka adalah cerminan masa depan bangsa Menjamin kualitas tontonan mereka adalah bukti tanggung jawab kita akan keberlangsungan bangsa ini. Keceriaan mereka adalah cerahnya masa depan, jangan biarkan keceriaan mereka direnggut oleh tontonan yang tidak bermutu dan mendidik. Mereka adalah cerminan masa depan bangsa.


Thursday, December 10, 2015

Konglomerasi Media dan Agenda Setting

Konglomerasi Media dan Agenda Setting

Di sekitar kita, sering kita jumpai orang dengan status ekonomi yang berbeda, ada yang miskin, juga ada orang yang kaya. Orang miskin tidak mempunyai harta sedangkan orang kaya memiliki harta dan uang yang melimpah. Saat kita menjumpai hal tersebut sering kali kita tidak mempedulikannya. Karena harta yang mereka miliki adalah jerih payah dari pekerjaan dan usaha mereka.
orang kaya seringkali mengumpulkan hal-hal yang mereka sukai untuk menjadikan nya sebagai koleksi. Ada yang koleksi tas mewah, koleksi motor gede, koleksi mobil mewah dan sebagainya. Sering kali kita tidak terlalu mempedulikannya karena sebanyak koleksi mereka tidak mempengaruhi kehidupan kita.
Orang-orang kaya saat ini lebih suka untuk investasi dengan beragam usaha. Banyak orang kaya yang membuat berbagai macam usaha, seperti bisnis perhiasan, butik, bahan bangunan, perumahan, mobil mewah dan sebagainya. Tetapi, sering kali sebagai orang yang biasa-biasa saja kita seringkali mengabaikannya, Cuma berhanyal bagaimana menjadi seperti mereka.
Mempunyai usaha memang adalah hal semua orang sebagai jalan untuk membuka rejeki atau nafkah bagi keluarga. Kalo melihat itu, kita tidak masalah dengan konglomerat keluarga Hartono pemilik Perusahaan Djarum dan BCA, atau konglomerat Susilo Wonowidjojo pemilik Gudang Garam, dan pengusaha lainnya.  Asalkan usaha nya adalah usaha yang jujur dan tidak merugikan orang lain mari kita dukung.
Tapi fenomena yang saat ini terjadi adalah ada beberapa orang yang memiliki banyak usaha dalam bidang penyiaran seperti media cetak, televisi dan radio. Sepertinnya kao kita lihat itu juga menjadi hal yang biasa dan tidak perlu di masalahkan. Yang punya duit mereka, yang membangun media mereka dan yang punya usaha mereka. Tetapi kenapa kita permasalahkan ya ?
Ingat kita sudah sepakat harus mendukung usaha seseorang asal dengan syarat jujur dan tidak merugikan orang lain. Lalu apa salahnya kalo ada orang yang mempunyai usaha banyak di satu media. Misal punya televisi, punya radio dan punya majalah. Seolah-olah memang tidak masalah ya ? Kepemilikan seseorang dalam banyak media disebut konglomerasi media.
KonglomerasiMedia adalah penggabungan-penggabungan perusahaan media menjadi perusahaan yang lebih besar yang membawahi banyak media. Konglomerasi ini dilakukan dengan melakukan korporasi dengan perusahaan media lain yang dianggap mempunyai visi yang  sama. Pembentukan konglomerasi ini dengan cara kepemilikan saham, joint venture / merger, atau pendirian kartel komunikasi dalam skala besar baik intergrasi vertikal, intergasi horisontal maupun kepemilikan silang. Akibatnya kepemilikan media yang berpusat pada segelintir orang. Contoh dalam hal ini Trans7 dan Trans TV berada pada payung bisnis yang sama yakni Trans Corp yang dikuasai oleh Chairul Tanjung , Global TV, RCTI dan TPI bergabung dalam Group MNC dan bertindak selaku pemilik di Indonesia adalah hary Tanoesoedibyo, TV One dan ANTV bernaung di bawah bendera Bakrie Group dengan Boss utama Abu Rizal bakrie, SCTV yang sebahagian besar sahamnya dimiliki oleh Eddy Sariatmadja, dan yang terakhir Metro TV dengan Surya Paloh pemimpinnya yang termasyhur karena wajahnya sering ditampilkan oleh TV yang dimilikinya sendiri.
Intinya adalah kepemilikan media pada hanya segelintir orang saja, membentuk sebuah gurita media karena satu orang menguasai berbagai media. Mungkin bagi kebanyakan  orang nampaknya hal ini sah-sah saja, karena setiap orang pasti akan selalu berusaha untuk mengembangkan usahanya. Tetapi ternyata konglomerasi mempunyai dampak yang luar biasa berbahaya bagi masyarakat, karena dapat membentuk opini tertentu yang tidak sehat, sterotipe pada suatu hal tertentu dan lain-lain.
Konglomerasi di Indonesia menyebabkan satu orang dapat menguasai banyak media muncul, sehingga orang tersebut dapat mengendalikan berbagai media dalam satu waktu, dari kebijakan yang harus dianut, berita mana yang layak di publikasikan, nilai-nilai yang dianut dan sebagainya. Akibatnya jika media yang tergabung dalam satu group tertentu maka berita dan informasi yang disampaikan akan homogen. Selain itu berita yang disampaikah hanya berita yang dianggap menguntungan secara ekonomi. Akhirnya Pers tidak lagi dinilai dari seberapa besar nilai berita yang ada, tetapi berapa banyak keuntungan yang akan didapatkan dari pemuatan berita tersebut. Sebetulnya ini merupakan tanda-tanda bahwa  regulasi atau peraturan yang mengatur tentang kepemilikan media tidak berjalan dengan baik. Padahal konglomerasi media berbahaya dan ancaman kebebasan pers.
Contoh ANTV karena saham terbesarnya milik keluarga Bakri, maka bagaimana pun tidak akan pernah ada berita yang akan mengangkat lumpur lapindo dan penderitaan masyarakat yang ada di sana. Televisi lain adalah Metro TV yang sering kali menyiarkan pemberitaan tentang Partai Nasional Demokrat, padahal kalo diperhatikan nilai berita mungkin tidak terlalu tinggi. Tetapi karena kepentingan pemiliknya maka berita tersebut sering muncul.
Sebuah pertanyaan yang biasa adalah siapa yang pertama kali menentukaan agenda media ? Ini adalah pertanyaan yang sulit dan kompleks. Terlihat bahwa agenda media berasal dari tekanan baik di dalam organisasi media dan dari sumber-sumber di luar organisasi tersebut. Dengan kata lain, agenda media ditentukkan oleh beberapa kombinasi pemprograman internal, keputususan manajerial dan editorial, dan pengaruh eksternal dari sumber-sumber non-media, seperti individu yang berpengaruh secara sosial, pejabat pemerintah, dukungan iklan dan sebagainya. (Littlejohn, 2009:418)
Harusnya agenda media merupakan hadil dari buah pikiran banyak orang, karena media ibarat sebagai seorang indivisu yang mempuyai karakter dan suatu tujuan hidup. Tapi bagaimana jika media itu dimiki oleh seorang yang punya kepentingan pribadi yang kuat, dan berambisi untuk mencapai tujuannya dengan berbagai cara. Ini yang menjadi berbahaya bagai publik. Agenda media tidak lagi buah dari pemikiran dari keputusan bersama manajerial dan editorial, tetapi buah pikiran pemilik media yang mempunyai agenda pribadi.
Dari versi teori yang paling sederhana dan langsung, agenda media mempengaruhi agenda masyarakat dan agenda masyarakat mempengaruhi agenda kebijaksanaan. (Littlejohn, 2009:416) Teori ini dapat dipatahkan mana kala ada konglomerasi media, karena yang menentukkan agenda media adalah agenda politik dari pemilik media.
Kekuasaan pemilik media harus di batasi
Kekuasaan pemilik media harus di batasi, karena jika tidak dibatasi, agenda pribadi dapat masuk dalam semua isi berita. Contoh Di TV one tidak akan memberitakan berita buruk tentang lumpu lapindo. Atau saat ini yang sedang berlangsung, kasus “papa minta saham”coba dibandingkan pemberitaannya antar tv one dengan stasiun televisi lainnya. Aturan sudah ada, tinggal bagaimana cara menindaknya.
Penyusun Isu masyarakat
Para peneliti telah lama mengetahui bahwa media memiliki kemampuan untuk menyusun isu-isu bagi masyarakat. Salah satu penulis awal yang menrumuskan gagasan ini adalah Walter Lippmann seorang jurnalis Amerika terkemuka. Lippmann mengambil pandangan bahwa masyarakat tidak merespon pada kejadian sebenarnya dalam lingkungan, tetapi pada “gambaran dalam kepala kita”, yang ia sebut dengan “lingkungan palsu” (pseudoenvironment) : Karena lingkungan yang sebenarnya terlalu kompleks, dan terlalu menuntut adanya kontak langsung. Kita tidak dilengkapi untuk berhadapan dengan begitu banyak detail, begitu banyak keragaman, begitu banyak permutasi dan kombinasi. Bersama-sama kita harus bertindak dalam lingkungan, kita harus menyusun kembali dalam sebuah model yang lebih sederhana sebelum kita berhadapan dengan hal itu. Media memberitakan kita model sederhana dengan menyusun agenda bagi kita (Littlejohn, 2009:415)

Manusia tidak mampu mersepon gambaran secara langsung karena terlalu kompleks, media membuat media yang lebih sederhana, kita mempercayai agenda media tersebut. Padahal agenda media tersebut buah dari agenda pemilik media yang berkepentingan.  Agenda kita ditentukkan oleh orang lain ? Media teman yang berbahaya.

Aturan Konglomerasi Media Di Indonesia 
Intervensi Pemilik Media "Konglomerasi Media"
Bahaya Konglomerasi Media
Dampak Konglomerasi Media 
Regulasi atau Aturan Konglomerasi Media Di Indonesia 
Degradasi Moral dan Televisi 
Bahaya Televisi 
Pengusaha yang mempunyai banyak media