Search This Blog

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, May 30, 2014

Konglomerasi Media "Peta Dukungan Media dalam Pripres 2014"


Konglomerasi media
Analisis Peta Dukungan Media dalam Pripres 2014

Konglomerasi media akan sangat berbahaya, jika telah berbaur dengan dunia politik. Di indonesia saat ini bahaya itu sedang mengancam, dengan saling dukung dan saling pukul antara pemilik media, karena menjadi aktor di belakang layar pemilihan pemilihan presiden 2014. Masyarakat harus tahu bagaimana media tidak selalu menginformasikan berita yang berimbang. Aneka kepentingan di dalamnya kadang membuat berita yang seharusnya berisi fakta menjadi berita yang hanya opini belaka. Masyarakat harus jeli dan jangan sampai tertipu. Masih adanya proses agenda setting dan framing yang dilakukan oleh media yang disesuaikan dengan kepentingan pemilknya. Kebenaran yang tidak didapatkan masyarakat tersebut dapat menyebabkan masyarakat terhegemoni dengan menerima kebenaran versi media massa.
Kita analisa secara sederhana,
  1. Kedekatan Chaerul Tanjung dengan megawati mengindikasikan gerbong yang dibekangnya  Trans7, Trans TV dan detik.com berada pada payung bisnis yang sama yakni Trans Corp Mendukung JOKOWI
  2. Pernyataan Hary Tanoesoedibyo yang dukung Prabowo, memastikan Global TV, RCTI, TPI bergabung dalam Group MNC, Sindo TV, MNC TV, Koran Sindo, Trust, MNC Radio pasti dukung PRABOWO
  3. Abu Rizal bakrie juga dukung prabowo, TV One dan ANTV bernaung di bawah bendera Bakrie Group pasti dukung PRABOWO
  4. SCTV dan Indosiar  yang sebahagian besar sahamnya dimiliki oleh Eddy Sariatmadja ini dukung siapa ya ? abu-abu
  5. Metro TV dan media Indonesia dengan bergabungnya  Surya Paloh (nasdem ke PDIP) Jelas akan dukung JOKOWI
  6. Kemudian ada Kelompok Jawa Pos, pemiliki koran Jawa Pos dan Rakyat Merdeka. Jaringannya di daerah-daerah juga cukup kuat, dengan merek Radar. Kelompok media ini didirikan dan dimiliki oleh PT Grafiti Pers, yang juga pendiri Tempo, setelah diambil-alih dari pemilik sebelumnya.Kelompok Jawa Pos yang dikelola dan dibesarkan oleh Dahlan Iskan, kini Menteri Negara BUMN, dikabarkan berada di belakang barisan JOKOWI.
Tentu saja kita harus selalu berhati-hati, karena media juga punya kepentingan, tidak selalu netral seperti yang kita bayangkan.  Pesannya selalu gunakan logika dan hati nurani, jangan tergesa-gesa menyimpulkan pemberitaan suatu media, tenang dan cari referensi lain. Bisa saja benar atau malah menyesatkan. 


Intervensi Pemilik Media "Konglomerasi Media"
Bahaya Konglomerasi Media
Dampak Konglomerasi Media 
Regulasi atau Aturan Konglomerasi Media Di Indonesia 

Thursday, May 29, 2014

Konglomerasi Media dan Komunikasi Politik Menjelang Pilpress


Konglomerasi Media dan Komunikasi Politik Menjelang Pilpress

Apakah salah jika kita melebarkan usaha ? Tidak salah tapi dalam kasus ini ada pengecualian.
Gurita konglomerasi media di indonesia, merupakah bukan hal yang baru.. Konglomerasi Media adalah penggabungan-penggabungan perusahaan media menjadi perusahaan yang lebih besar yang membawahi banyak media. Konglomerasi ini dilakukan dengan melakukan korporasi dengan perusahaan media lain yang dianggap mempunyai visi yang  sama. Pembentukan konglomerasi ini dengan cara kepemilikan saham, joint venture / merger, atau pendirian kartel komunikasi dalam skala besar. Akibatnya kepemilikan media yang berpusat pada segelintir orang. Contoh dalam hal ini Trans7, Trans TV dan detik.com berada pada payung bisnis yang sama yakni Trans Corp yang dikuasai oleh Chairul Tanjung , Global TV, RCTI, TPI bergabung dalam Group MNC, Sindo TV, MNC TV, Koran Sindo, Trust, MNC Radio dan bertindak selaku pemilik di Indonesia adalah hary Tanoesoedibyo, TV One dan ANTV bernaung di bawah bendera Bakrie Group dengan Boss utama Abu Rizal bakrie, SCTV yang sebahagian besar sahamnya dimiliki oleh Eddy Sariatmadja, dan yang terakhir Metro TV dan media Indonesia dengan Surya Paloh pemimpinnya yang termasyhur karena wajahnya sering ditampilkan oleh TV yang dimilikinya sendiri.
Kemudian ada Kelompok Jawa Pos, pemiliki koran Jawa Pos dan Rakyat Merdeka. Jaringannya di daerah-daerah juga cukup kuat, dengan merek Radar. Kelompok media ini didirikan dan dimiliki oleh PT Grafiti Pers, yang juga pendiri Tempo, setelah diambil-alih dari pemilik sebelumnya.Kelompok Jawa Pos yang dikelola dan dibesarkan oleh Dahlan Iskan, kini Menteri Negara BUMN, dikabarkan berada di belakang barisan Jokowi.
Intinya adalah kepemilikan media pada hanya segelintir orang saja, membentuk sebuah gurita media karena satu orang menguasai berbagai media. Mungkin bagi kebanyakan  orang nampaknya hal ini sah-sah saja, karena setiap orang pasti akan selalu berusaha untuk mengembangkan usahanya. Tetapi ternyata konglomerasi mempunyai dampak yang luar biasa berbahaya bagi masyarakat, karena dapat membentuk opini tertentu yang tidak sehat, sterotipe pada suatu hal tertentu dan lain-lain.
Apa yang perlu dikhawatirkan dengan kolaborasi penguasa media dengan partai politik? Sudah tentu, informasi yang lahir dari media tersebut cenderung bias. Pembodohan publik bisa terjadi melalui media yang sudah
tidak lagi berpihak pada warga lantaran harus melindungi kepentingan politik pemilik atau pengelolanya.
Dalam kondisi seperti ini, media sudah kehilangan esensi dan akal sehatnya untuk melakukan kontrol sosial. Apalagi harus menjadi pilar demokrasi. Sesuatu yang sangat naïf jika media yang dimiliki politisi masih mengatakan bisa independen dan bebas dari intervensi pemilik. Karena itu, sebagai konsumen informasi, kita ambil mudahnya saja. Ketika sebuah media terafiliasi memberitakan figur atau kegiatan kelompok politiknya, tinggal didiskon sebesar 99 persen. Begitu juga ketika yang dibombardir adalah lawan politiknya, kecuali sepanjang yang diungkat sebatas fakta tanpa embel-embel opini.
Lalu, apa hubungannya komglomerasi media dengan pilpres saat ini. Jelas sekali berhubungan, manakala saat ini hampir semua, bos media terjun ke dunia politik. Nama-nama besar Surya Paloh, Hary Tanoesoedibyo, Abu Rizal bakrie, Dahlan Iskan, Chairul Tanjung, semua terjun. Bahkan beberapa waktu yang lalu ada yang hendak maju sebagai Capres dan Cawapres satu partai politik.
walupun saat ini tidak ada satupun dari mereka yang menjadi capress atau cawapress Tetapi nama-nama itu saat ini masih sangat berperan pada belakang layar. Berperan menciptakan opini media yang akan berkembang menjadi opini masyarakat. Pemberitaan yang seharusnya berimbang menjadi berat sebelah. Akan sangat terlihat bagaimana media yang menjadi satu gerbong pendukung satu capress tertentu, akan membangun citra capres tersebt dengan berbagai  pemberitaan, dan sekaligus  akan menjatuhkan capres yang lain.
Bagaimana mengetahui media ini mendukung capres yang mana, gampang sekali, lihat saja siapa pemiliknya, dan mendukung siapa dia? Contoh awalnya hary Tanoesoedibyo mendukung Surya paloh, waktu itu Surya Paloh dengan Nasdem akan di bela Mati-matian dengan MNC nya, karena pecah kongsi pindah ke Wiranto, Hanura dengan gencar akan didukung oleh MNC, ketika pecah kongsi dengan Wiranto, hary Tanoesoedibyo di pinang oleh Prabowo, maka dapat di tebak kemana alur pemberitaan dari MNC.
Peta politik sangat berpengaruh dalam peta pemberitaan media, dengan adanya Gurita dan Konglomerasi media. Apakah berbahaya ? Sangat berbahaya, media akan mengombang ambingkan masyarakat, media akan mengombang ambingkan opini yang ada di mansayarakat. Media yang seharusnya menuntun masyarakat  kearah yang benar dengan informasinya, malah menyesatkan kita dengan berbagai opini semu nya.
Saat ini ketika membaca suatu berita dari media, apalagi perihal politik, apalagi seputar Capres dan Cawapres sebaiknya kita mulai membuat filter, kita lihat dulu siapa bos media yang kita baca. Jangan telan mentah mentah tapi cermati dulu informasi yang kita terima. Pesannya gunakan logika dan hati nurani. Kita berharap semoga sebagai pilar ke empat dalam membangun demokrasi dapat kembali tegak dan bebas dari gurita yang saat ini sedang melilit. Pemerintah seharusnya segera membenahi regulasi ini agar sekali lagi rakyat tidak menjadi korban. Berdoa Indonesia menjadi lebih baik.

Wednesday, May 28, 2014

Teori Semiotika


Semiotika berasal dari kata Yunani “Semion” yang berarti tanda. Menurut Pialang, semiotika sebagai metode kajian dalam berbagai cabang keilmuan dimungkingkan karena kecenderungan untuk memandang wacana sosial sebagai fenomena bahasa. Dengan kata kata lain bahasa dapat dijadikan model dalam berbagai wacana sosial maupun politik. Berdasarkan Semiotika bila seluruh praktik sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, semuanya juga dapat di pandang sebagai tanda. Hal ini di mungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri 
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign) berfungsi tanda, dan produksi makna. Tanda adalah suatu bagi seseorang berarti sesuatu bagi yang lain. Dalam pandangan Zoest, segala sesuatu yang dapat di amati atau dibuat teramati dapat di sebut tanda. Karena itu tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, struktur yang ditemukan dalam sesuatu suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut tanda.
Menurut Saussure, tanda sebagai kesatuan dari dua bidang yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya selembar kertas. Dimana ada tanda di sana ada system. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar) mempuanyai dua aspek yang di tangkap oleh indra kita yang disebut dengan signifier, bidang penanda atau bentuk dan aspek lainnya yang disebut signified bidang petanda atau konsep atau makna.
Tanda kan selalu mengacu pada (mewakili) suatu hal (benda) yang lain di sebut referent seperti lampu merah yang mengacu pada jalan berhenti.
Dua tokoh Semiotika yaitu Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander Pierce (1839-1914). Semiologi menurut Sassure pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda di belakangnya harus ada sistem perbedaan dan konvensi yang memungknkan makna itu. Dimana ada tanda disitu ada sistem. Sedangkan bagi Pierce ilu yang dibangunnya sebagai semiotika (semiotic). Bagi Pierce penalaran manusia senantiasa lewat tanda. Artinya manusia hanya dapt bernalar dengan tanda (Berger 2000:10)
Menurut Pierce, tanda (representamen) ialah suatu yang dapat mewakili suatu yang lain dalam batasan tertentu. Tanda akan selalu mengacu pada suatu yang lain, oleh pierce disebut objek (detotatum). Tanda baru berfungsi bila di interpretasikan dalam bentuk penerima tanda melalui inetrpretant. Jadi interpretant ialah pemahaman makna yang muncul dalam diri penerima tanda. Hubungan ketiga unsur yang ditemukan Pierce terkenal dengan nama segitiga semiotic (tryadic semiotic).
Dalam teori Pierce kemudian dibagi menjadi beberapa tanda agar bisa dikenal yaitu:
Ground adalah sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi, oleh Pierce tanda (ground) dibagi menjadi;
1)Qualisign adalah kualitas yag ada pada tanda.
2)Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda misal kata keruh pada kata “air sungai keruh” yang menandakan bahwa ada hujan pada di hulu sungai.
3)Legisign adalah normal yang dikandung oleh tanda, misal rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia.
sedangkan berdasarkan objeknya, pierce membagi tanda menjadi tiga segitiga semiotic (tryadic semiotic); Icon, Indeks, Symbol. Ikon adalah tanda yang antara tanda dengan acuannya ada hubungan kemiripan dan biasa disebut metafora. Contoh ikon adalah potret. Bila ada hubungan kedekatan eksistensi, tanda demikian disebut indeks. Tanda seperti ini disebut metonimi. Contih indeks adalah tanda panah penujuk arah bawah di sekitar tempat itu ada bangunan tertentu. Langit berawan tanda hari akan hujan. Symbol adalah tanda yang di akui keberadaannya berdasarkan hokum konvensi. Contoh symbol adalah bahasa tulisan. Ikon, indeks, dan symbol merupakan perangkat hubungan antara dasar (bentuk), objek (referent), dan konsep (interpretant atau reference).
Bentuk (slogan dan motto) biasanya menimbulkan persepsi pembaca (masyarakat) terhadap pasangan capres dan cawapres sehingga setelah dihubungkan dengan objek akan menimbulkan interpretan (pemahaman makna yang muncul dalam diri penerima tanda) . Proses ini merupakan proses kognitif yang terjadi dalam memahami pesan jargon dan motto dalam iklan capres dan cawapres .
Dalam penelitian, penulis ingin ingin mengungkapkan makna maupun simbol-simbol dari suatu teks. Menurut Endraswara (2003 : 161 menegaskan bahwa tujuan dari analisis isi ialah inferensi yang diperoleh melalui identifikasi maupun penafsiran . untuk menganalisis jargon dan motto kampanye capres dan cawapres ini akan didasarkan pada semiotik Charles Sanders Pierce. Berdasarkan konsep tryadic Charles Sanders Pierce, melalui ikon, indeks dan simbol dan tentunya akan berlanjut pada eksplorasi makna berkelanjutan dengan fakta dan realitas sosial yang ada.



Kajian Semiotika pada Iklan Biskuat


Teori Semiotika
Semiotika Adalah
Bahaya televisi Bagi anak
Aturan Konglomerasi Media Di Indonesia 
Intervensi Pemilik Media "Konglomerasi Media"
Bahaya Konglomerasi Media
Dampak Konglomerasi Media 
Regulasi atau Aturan Konglomerasi Media Di Indonesia 
Degradasi Moral dan Televisi 
Bahaya Televisi 
Pengusaha yang mempunyai banyak media 

black campaign Jokowi - Prabowo

Kampanye Hitam Jokowi-Prabowo: Bukti Bangsa Sakit


Capres 2014/Kompasiana (kompas.com)
Capres 2014/Kompasiana (kompas.com)
Menyedihkan. Menyesakkan. Busuknya kampanye pilpres dua pasangan Jokowi dan Prabowo adalah gambaran hitamnya jiwa dan sakitnya bangsa Indonesia secara keseluruhan. Kampanye hitam yang menjurus pembunuhan karakter jelas menyedihkan. Kini, kampanye berbau SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) sudah masuk ke tempat-tempat ibadah. Ini sungguh memrihatinkan. Kenapa kampanye hitam marak dan tak terkendali dan efektifkah kampanye hitam bagi Jokowi dan Prabowo?
Sesungguhnya keprihatinan melihat kampanye pilpres dimulai dengan ‘percobaan’ kampanye hitam salah satu capres oleh Tim kreativitas perang cyber - seperti model PKS Piyungan dan Voa Islam - yang secara gencar memroduksi bahan berita kampanye hitam.
Maraknya kampanye hitam dimulai dengan “boneka”, “batutulis”, ke “penculik” sebagai awal aksi dan reaksi kampanye di Pileg. Serangan Prabowo dilawan oleh Jokowi. Reaksi balik yang menyudutkan Prabowo tak menghentikan kreativitas Noudhy Valdryno dan Fadli Zon dalam berkreasi menyusun kampanye hitam melalui media sosial. Maka lahirlah aneka kampanye yang semakin mengarah pada ajakan menjerumuskan bangsa ke pertentangan SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).
Pemerintahan SBY yang telah mengajarkan menghargai perbedaan etnis - dengan mengenalkan pemakaian kata Tionghoa dan Tiongkok untuk menyebut etnis yang zaman Soeharto disebut China - diganggu oleh maraknya kampanye anti Tionghoa.
Padahal sesungguhnya jika kita sedikit mau membaca sejarah asal manusia yang tinggal di Nusantara atau Indonesia, kita akan tercenung bahwa kita semua, dari Aceh sampai Papua, berasal dari Yunan di Tiongkok bagian selatan. Diaspora manusia Tiongkok menyebar dari Yunan, ke Myanmar, ke Vietnam, ke Kamboja, ke Thailand, ke Malaysia, ke Indonesia, ke Filipina, ke Taiwan. Itulah sebabnya bangsa yang tinggal di ASEAN memiliki kesamaan fisik - dengan akar bahasa Proto-Hmong-Mien yang memiliki kesamanan dengan bahasa Mandarin Kuno sebagai pengenal identitas kesamaan mereka.
Dari asal bangsa Indonesia yang dari Yunan itu belakangan banyak suku bangsa lain datang dan bercampur - yang menunjukkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang toleran - dengan pernikahan dan bukan pernikahan. Bangsa Arab, India, Eropa, dan Afrika datang secara bergelombang mendiami tanah air. Percampuran itu menghasilkan berbagai macam warna kulit dan bentuk muka yang beraneka warna dan bentuk serta perawakan. Dan tak satu pun bisa meng-klaim sebagai bangsa asli Indonesia atau Nusantara. Kita semua berasal dari keturunan Yunan dan campuran berbagai bangsa di dunia.
Perihal agama pun, semua agama resmi yang diakui di Indonesia (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu) tak ada satu pun yang merupakan agama asli Indonesia. Agama yang dianggap asli Indonesia adalah animism dan dinamisme yang membangun menhir, bangunan besar terbuat dari batu yang sudah ada sejak lebih dari 10,000 tahun lalu. Mereka tersebar di seluruh Indonesia.
Dan temuan bangunan megalitikum di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa, Flores, Maluku membuktikan merekalah yang lebih asli dan lebih Nusantara. Islam berasal dari Arab. Hindu dan Buddha dari India. Katolik dan Kristen dari Eropa/Timur Tengah. Konghucu berasal dari Tiongkok. Tak ada agama asli Indonesia yang diakui oleh negara. Dengan demikian, agama apapun yang dianut oleh orang Indonesia saat ini, yang tercantum di KTP setiap penduduk adalah agama impor, agama dari luar Indonesia - sama dengan asal kita dari luar, dari Yunan di Tiongkok bagian selatan.
Jadi, kampanye yang menjurus ke SARA, adalah kampanye kerdil yang tak memahami asal-usul dan digunakan untuk menciderai diri sendiri. Kampanye berbau SARA adalah kampanye untuk menjauhkan kesamaan asal-usul demi kepentingan politik sesaat. Kampanye berbau SARA semakin menunjukkan bahwa kita semua adalah bangsa yang sakit. Kita tega menyakiti diri sendiri untuk memupuk dan merebut kekuasaan - yang nota bene adalah sesama manusia dari satu bangsa, yang sama-sama bersatu dan sama-sama terasing di negeri baru bernama Indonesia.
Dan kampanye hitam di Indonesia menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang sakit yang keluar dari santun politik yang sebenarnya menjadi ciri bangsa Indonesia. Santun politik itu hilang karena para pemimpin politik tidak bermoral. Para pemimpin politik menunjukkan laku politik seperti pelacur yang hanya akan suka dengan kekuasaan (uang). Para pemimpin politik menginjak-injak tata-krama demi kekuasaan. Para pemimpin politik adalah wajah sakitnya bangsa Indonesia.
Dan mereka mengajak rakyat banyak untuk mengambil istibat, contoh, teladan dari mereka dengan meminta rakyat mendukung para penguasa dan pemimpin politik yang hanya menghamba pada kepentingan diri sendiri dan golongan, bukan kepada kepentingan rakyat. Jika memang untuk kepentingan rakyat, maka rakyat tak perlu diajak menjadi seperti para politikus yang rakus kekuasaan yang jauh dari cita-cita kemakmuran bersama.
Kini saatnya rakyat sadar bahwa kita tengah dipecah-belah oleh kepentingan sempit kampanye pilpres. Kita tengah dikoyak-koyak oleh kampanye hitam yang mengajak disintegrasi suku, bangas, agama, dan ras yang semestinya dijaga dan dihormati oleh semua pemangku kepentingan: rakyat, kita semua.
Akankah kampanye hitam efektif? Jawabnya tidak. Jokowi dan Prabowo harus menghentikan timses masing-masing untuk berhenti memroduksi materi kampanye berbau SARA. Pelajaran dari PKS yang menyebarkan kebencian dengan PKS Piyungan telah memakan PKS menjadi partai kerdil. Jadi kampanye hitam oleh siapapun akan tidak efektif dan justru akan berbalik menghantam penyebar kampanye hitam. Rakyat juga tidak bodoh-bodoh amat.
Bahkan pemakaian kampanye SARA akan menjauhkan floating mass alias massa mengambang yang bukan kader partai yang berjumlah 46% pemilih (asumsi 34% kelompok golput dan 10% belum menentukan pilihan) akan memilih pasangan yang lebih banyak diserang dengan kampanye hitam. Efektifitas kampanye hitam hanya akan memerkuat kelompok sendiri yang militan namun akan menjauhkan dari para pemilih rasional dan ideologis.
Naruni akan menghukum siapapun yang menyebarkan kampanye merusak kohesi kenegaraan dan kebersamaan persatuan Indonesia. Kampanye hitam juga menjadi bukti sakitnya demokrasi Indonesia dan sakitnya bangsa Indonesia.
Salam bahagia ala saya.
http://polhukam.kompasiana.com/politik/2014/05/26/kampanye-hitam-jokowi-prabowo-bukti-bangsa-sakit-657973.html?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kanawp
Pesan Kampanye
Pesan dari kampanye adalah penonjolan ide bahwa sang kandidat atau calon ingin berbagi dengan pemilih. Pesan sering terdiri dari beberapa poin berbicara tentang isu-isu kebijakan. Poin2 ini akan dirangkum dari ide utama dari kampanye dan sering diulang untuk menciptakan kesan abadi kepada pemilih. Dalam banyak pemilihan, para kandidat partai politik akan selalu mencoba untuk membuat para kandidat atau calon lain menjadi "tanpa pesan" berkaitan dengan kebijakannya atau berusaha untuk pengalihan pada pembicaraan yang tidak berkaitan dengan poin kebijakan atau program. Sebagian besar strategis kampanye menjatuhkan kandidat atau calon lain yang lebih memilih untuk menyimpan pesan secara luas dalam rangka untuk menarik pemilih yang paling potensial. Sebuah pesan yang terlalu sempit akan dapat mengasingkan para kandidat atau calon dengan para pemilihnya atau dengan memperlambat dengan penjelasan rinci programnya. Misalnya, dalam Pemilu 2008 dari pihak John McCain awalnya mempergunakan pesan yang berfokus pada patriotisme dan pengalaman politik; pesan itu kemudian ditangkap dan diubah menjadi perhatian beralih ke peran sebagai "maverick" di dalam pendirian politiknya sedangkan Barack Obama tetap pada konsistensi, pesan yang sederhana yang "mengubah" seluruh kampanye itu. [1]
Dalam tekhnik kampanye politik kemenangan kandidat atau calon yang dilakukan di dalam jajak pendapatkan hanya dipergunakan sebagai agenda politik di kantor staf pemenangan kandidat atau calon . [2]
 Kampanye Hitam 
Penggunaan metode rayuan yang merusak, sindiran atau rumors yang tersebar mengenai sasaran kepada para kandidat atau calon kepada masyarakat agar menimbulkan presepsi yang dianggap tidak etis terutama dalam hal kebijakan publik. komunikasi ini diusahakan agar menimbulkan fenomena sikap resistensi dari para pemilih, kampanye hitam umumnya dapat dilakukan oleh kandidat atau calon bahkan pihak lain secara efisien karena kekurangan sumber daya yang kuat untuk menyerang salah satu kandidat atau calon lain dengan bermain pada permainan emosi para pemilih agar pada akhirnya dapat meninggalkan kandidat atau calon pilihannya.

*Menghela Nafas Sejenak
Suatu kegagalan jika "Saya terpaksa milih A karena tidak menyukai B"
Tentu saja menjadi menarik untuk dibahas, karena fenomena ini telah masuk hampir ke sendi di masyarakat. bahkan ketika kita mampir di warung kopi atau angkringan kita kan menjumpai orang yang sedang menggebu-gebu membicarkan jokowi dan prabowo. "ngrasani atau ngegosip" sudah tidak lagi ke ibu tetangga atau anaknya bapak A" tetapi sudah masuk ke  pilpres yang akan di selenggarakan. yang menjadi topik pembicaraan tentu saja kejelekan satu dan kejelekan yang lain dari setiap caleg. 
Pertayaannya adalah Apa ini tujuan dari team kampannye ? 
kalo iya memang bangsa kita telah tersesat. 
kampanye seharusnya menjadi ajang untuk mensosialisasiakan ide dari kadidat, mensosialiasasikan apa yang akan menjadi buah pemikiran kepada masyarakat, sehingga masyarakat akan mendukung (melilih) kadidat, yang harapannya ketika kadidat ini terpilih rakyak akan senang hati akan membantu mewujudkan ide atau gagasan tersebut. 
Suatu kegagalan jika "Saya terpaksa milih A karena tidak menyukai B"
Harusnya rakyak disuguhi dengan ide-ide, gagasan-gagasan yang membuat rakyat mempunyai banyak pilihan. Memilih mana yang terbaik, atau memilih terbaik dari yang terbaik. 

Oke ayo menjadi pemilih yang rasional, dan tetap gunakan hati Nurani